Jakarta, NARAYA Media – Nilai tukar rupiah, Senin (22/6) pagi, bergerak melemah 9 poin atau 0,05 persen menjadi Rp17.813 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.804 per dolar AS.
Dinamika pasar keuangan domestik menunjukkan pergerakan variatif awal pekan ini. Dari data perdagangan Senin (22/6) pagi (22/06), nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp17.813 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.804 per dolar AS.
Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru bergairah. IHSG dibuka menguat signifikan 39,91 poin atau 0,65 persen ke posisi 6.217,05.
Di tengah fluktuasi nilai tukar ini, para pelaku UMKM Indonesia tidak tinggal diam. Salah satunya adalah Kayuki, produsen handicraft (kerajinan tangan) asal Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dia langsung tancap gas memperkuat strategi penjualan secara daring.
Pelemahan mata uang Indonesia diakui berdampak langsung pada biaya produksi pelaku usaha. Pemilik Kayuki, Ristiyanto, ungkap bahwa melemahnya rupiah memicu kenaikan harga sejumlah bahan baku penunjang yang masih mengandalkan jalur impor.
Beberapa komponen produksi yang terdampak antara lain multi triplek, akrilik, wood filler (dempul kayu), dan plastik kemasan. “Dengan kondisi ini, kami harus mencari cara agar tetap kompetitif dan menjaga keberlangsungan usaha,” kata Ristiyanto, dikutip dari Antara, Minggu (21/06).
Pangkas Biaya, Garap Ekspor
Sebagai solusi nyata, Kayuki mengalihkan fokus ke pemasaran digital. Langkah ini terbukti efektif menekan biaya promosi konvensional. Juga memotong rantai distribusi yang panjang.
Saat ini, sebanyak 85 persen penjualan Kayuki sudah dilakukan secara online. Melalui platform marketplace internasional dan media sosial, Kayuki kini lebih aktif membangun komunikasi langsung dengan calon pembeli dari luar negeri.
Momemtum melemahnya rupiah ini sengaja dimanfaatkan untuk meningkatkan volume ekspor. Produk yang dijual dalam mata uang dolar AS tentu akan memberikan margin keuntungan yang lebih menjanjikan bagi perajin lokal.
“Yang kita persiapkan adalah produk yang lebih baru, di mana nanti produk itu pesaingnya sedikit, jadi bisa diterima pasar lebih baik dan lebih banyak lagi,” tukas Ristiyanto.
Ristiyanto tetap optimistis produk kerajinan tangan dari Temanggung memiliki daya saing tinggi di pasar mancanegara. Kekuatan utama produk mereka terletak pada tiga aspek. Antara lain kualitas material yang terjaga, keunikan desain yang inovatif, da sentuhan handmade otentik bernilai tinggi.
Transformasi digital terbukti menjadi pilar penyelamat sekaligus mesin pertumbuhan baru bagi UMKM di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan strategi tepat, pelemahan nilai tukar bukan lagi sebuah hambatan, melainkan batu loncatan menuju panggung internasional. (*)