JAKARTA, Naraya Media – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup merosot tajam pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh aksi jual massal atau panic selling oleh investor setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan pengumuman krusial terkait indeks saham Indonesia.
Kepanikan pasar bermula setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara (suspension) rebalancing efek asal Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Langkah ini diambil karena MSCI memberikan peringatan keras terkait metodologi penilaian free float saham-saham di pasar modal Indonesia.
Keputusan ini memicu kekhawatiran adanya penarikan dana asing (capital outflow) secara besar-besaran, mengingat banyak manajer investasi global menggunakan indeks MSCI sebagai acuan portofolio mereka.
Sempat Trading Halt
Tekanan jual yang sangat masif membuat IHSG sempat anjlok lebih dari 8% pada sesi perdagangan hari ini. Kondisi ini memaksa otoritas bursa untuk menerapkan trading halt (penghentian perdagangan sementara) selama 30 menit mulai pukul 13.43 WIB guna meredam volatilitas yang berlebihan.
Hingga akhir perdagangan, IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 7,35% ke level 8.321. Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang menjadi anggota indeks MSCI, seperti PTRO, BUMI, dan PANI, tercatat mengalami koreksi yang sangat dalam.
Menanggapi kejatuhan pasar, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama SRO dan OJK menyatakan tengah memperkuat koordinasi dengan pihak MSCI terkait isu metodologi tersebut.
Meski terjadi guncangan hebat, beberapa analis menilai pelemahan ini bersifat sementara sebagai reaksi kaget pasar (knee-jerk reaction). Investor ritel diimbau untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam aksi jual yang emosional di tengah volatilitas yang masih tinggi. (*)