Jakarta, NARAYA Media – Kabar membanggakan datang dari diaspora Indonesia di Amerika Serikat (AS). Pada Selasa (26/6) hari ini, aktris sekaligus aktivis sosial yang telah 28 tahun menetap di AS, Imelda Budiman, resmi dilantik sebagai perwakilan Perempuan Indonesia Maju (PIM) untuk wilayah AS.
Pelantikan ini menjadi tonggak sejarah baru guna memperkuat jejaring perempuan Indonesia di kancah internasional. Sebagai sosok multitalenta, Imelda dikenal aktif mempromosikan budaya Tanah Air.
Sekaligus menggalang dana untuk berbagai yayasan amal di Indonesia. Kiprah cemerlangnya—termasuk prestasi sebagai Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World 2014—menjadikannya figur sangat tepat untuk merangkul. Sekaligus memberdayakan komunitas perempuan Indonesia di AS.
Dalam sambutannya, Imelda menegaskan komitmennya membawa PIM sebagai wadah inklusif. Ia berharap organisasi ini tak hanya tempat saling mendukung. Namun, motor penggerak dalam melestarikan nilai-nilai kebudayaan Nusantara.
“Selama dua dekade lebih tinggal di AS, saya belajar bahwa perempuan diberi ruang untuk berkembang tanpa harus kehilangan identitas dirinya. Hal paling berharga adalah budaya saling mendukung antarperempuan. Serta pentingnya berinovasi dan keberanian untuk menyampaikan ide,” kata Imelda, Selasa (26/5).

Tak hanya itu. Nilai-nilai tersebut juga ingin ia integrasikan dalam kepengurusan PIM, agar perempuan Indonesia semakin percaya diri. Juga mampu berkembang bersama dengan tetap menjunjung budaya dan nilai ketimuran Indonesia.
Diketahui, di AS, emansipasi kerap dimaknai sebagai kebebasan perempuan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Menurutnya, emansipasi bukan berarti perempuan harus menjadi seperti laki-laki. Tetapi, perempuan memiliki hak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri dengan penuh martabat dan kesempatan yang setara.
“Pandangan ini sangat relevan dengan perempuan Indonesia saat ini, karena semakin banyak perempuan yang mampu berkontribusi di berbagai bidang — pendidikan, ekonomi, sosial, hingga kepemimpinan — tanpa meninggalkan perannya dalam keluarga dan masyarakat,” jelas eks pemain di film Matadewa dan Pariban, Idola dari Tanah Jawa ini.
UMKM ke Pasar Internasional
Imelda menaruh harapan, jejaring perempuan di AS dapat diberdayakan guna membantu program-program PIM, seperti peningkatan kapasitas UMKM hinga literasi digital.
Justru itu, wanita yang pernah masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu ini, melihat jejaring perempuan Indonesia di AS memiliki potensi besar untuk mendukung program-program PIM.
“Terutama melalui sharing knowledge, mentorship, dan kolaborasi. Banyak diaspora memiliki pengalaman di bidang bisnis, teknologi, pendidikan, atau digital yang dapat dibagikan untuk meningkatkan kapasitas UMKM perempuan Indonesia. Saya berharap ke depan bisa tercipta program webinar, pelatihan, hingga pendampingan yang menghubungkan perempuan Indonesia di Indonesia dengan diaspora di luar negeri,” paparnya.

Sebagai representasi perwakilan dari AS, Imelda, telah menyiapkan langkah konkret yang dibangun sebagai jembatan kolaborasi antara perempuan di RI dan luar negeri.
“Saya ingin membangun jembatan kolaborasi yang tidak hanya bersifat seremonial, tapi juga berkelanjutan dan berdampak nyata. Langkah konkret yang ingin saya dorong adalah memperkuat networking antara diaspora dan perempuan Indonesia melalui program pertukaran ide, promosi karya dan UMKM lokal ke pasar internasional,” jelasnya.
Kemudian, kolaborasi di bidang pendidikan dan kreativitas. Imelda percaya, perempuan Indonesia di luar negeri dapat menjadi perpanjangan tangan untuk membawa nama baik Indonesia. Sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan di Tanah Air.
Usai pelantikan, Imelda, punya harapan terbesar terhadap bagi seluruh pengurus PIM. Terutama dalam mendorong kesetaraan dan kontribusi perempuan di berbagai sektor strategis.
“Harapan terbesar saya, agar kita dapat menjadi perempuan-perempuan yang bukan hanya inspiratif. Tetapi, memberi dampak nyata bagi sesama. Semoga PIM menjadi wadah yang menghadirkan solidaritas, keberanian, dan kolaborasi untuk mendorong perempuan Indonesia semakin maju dan mandiri,” tutupnya. (*)