Mengapa Teknologi Saja Tak Cukup? Ini Definisi Kebangkitan Bangsa Menurut Imelda Budiman

Diaspora Imelda Budiman merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 tahun 2026. (NARAYA Media/Dok.pribadi)

Jakarta, NARAYA Media – Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118 pada 20 Mei 2026 lalu, menjadi momentum krusial bagi komunitas diaspora Indonesia di seluruh dunia. Bagi jutaan warga Indonesia yang menetap di luar negeri, esensi kebangkitan tahun 2026, tak lagi sekadar mengenang sejarah Boedi Oetomo.

Tapi, mewujudkan aksi nyata dalam membangun bangsa dari luar batas wilayah kedaulatan. Sementara, di sisi lain, menurut diaspora Imelda Budiman, Harkitnas bukan hanya tentang mengenang sejarah.

“Tetapi, tentang bagaimana kita bangkit sebagai bangsa yang saling mendukung. Menghargai keberagaman dan berani membawa perubahan positif,” kata Imelda Budiman, yang telah 28 tahun menetap di AS bersama keluarga ini, kepada NARAYA Media, Selasa (26/5).

Di tahun 2026 ini, dia merasa semangat Harkitnas turut berarti memberi ruang. Khususnya bagi perempuan, anak-anak, generasi muda, dan seluruh masyarakat untuk memiliki kesempatan sama dalam menentukan masa depan mereka.

“Kebangkitan bukan hanya soal kemajuan teknologi atau ekonomi. Tetapi, juga kebangkitan hati, empati, dan persatuan sebagai sesama anak bangsa,” ucap alumni Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World 2014 ini.

Imelda mengungkap, walau telah lama menetap di AS, baginya, Indonesia selalu punya tempat yang sangat dekat di hatinya. “Nasionalisme bagi saya bukan diukur dari seberapa sering kita tinggal di Tanah Air. Tetapi, dari bagaimana kita tetap mencintai, menghormati, dan membawa nama baik Indonesia di mana pun berada,” tukasnya.

Di sisi lain, Imelda, tidak malu dengan Indonesia. Ia mengakui selalu bangga memperkenalkan budaya Indonesia, bahasa Indonesia, makanan, keramahan, hingga nilai kekeluargaan kepada rekan-rekannya di internasional.

“Mereka pun sangat senang dan respect terhadap budaya Indonesia. Seringkali mereka juga menyampaikan keinginannya untuk berkunjung suatu hari nanti,” tambahnya.

“Saya juga masih WNI dengan paspor Indonesia. Setiap kali pulang ke Indonesia, selalu ada rasa haru dan rasa ‘pulang ke rumah’ yang tidak tergantikan. Kebetulan, saat kunjungan ke Jakarta ini, selain akan melakukan press conference untuk proyek film yang segera kami garap tentang kisah nyata wanita dengan sembilan kepribadian, saya juga ikut pelantikan sebagai wakil Perempuan Indonesia Maju (PIM) USA. Ini yayasan yang memberdayakan wanita dengan saling sinergi satu sama lain,” jelasnya.

Identitas ke-Indonesiaan

Dalam pandangan Imelda, ada tantangan terbesar menjaga kecintaan pada budaya dan identitas ke-Indonesiaan bagi diaspora. Khususnya anak-anak yang tumbuh di luar negeri.

“Tantangan terbesar adalah karena anak-anak diaspora lahir dan tumbuh di lingkungan dengan budaya yang sangat berbeda. Kadang mereka lebih familiar dengan budaya tempat tinggalnya dibanding budaya Indonesia sendiri,” kata pemain di film Matadewa dan Pariban, Idola dari Tanah Jawa ini.

Karena itu, lanjutnya, peran keluarga sangat penting untuk tetap mengenalkan bahasa Indonesia. Lalu, nilai sopan santun, rasa hormat kepada orang tua, serta cerita dan tradisi Indonesia sejak kecil.

“Anak saya paling besar tinggal di New York. Kadang masak rendang atau ke restoran Indonesia jika kangen masakan rumah di masa kecil. Saya percaya identitas budaya tidak harus membuat seseorang memilih satu sisi saja. Namun, bisa tetap menjadi warga dunia dan tetap mencintai akar keindonesiaannya,” ungkapnya.

Biasanya, Imelda, mencoba mengenalkan Indonesia melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan mudah diterima masyarakat internasional. Seperti kuliner, seni, fashion, kegiatan sosial, budaya, hingga film dan musik Indonesia. Baik secara langsung (in person) maupun melalui media sosial.

“Kami juga sering mendukung acara komunitas dan kegiatan budaya. Serta membangun koneksi positif dengan masyarakat lokal agar mereka bisa melihat Indonesia sebagai negara yang hangat, ramah, dan kaya budaya,” kata wanita yang pernah masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025.

Menurutnya, hal sederhana seperti menunjukkan keramahan, toleransi, dan semangat gotong royong juga merupakan bentuk diplomasi budaya yang sangat indah. Karena terkadang, kesan positif tentang Indonesia dimulai dari pertemuan kecil yang tulus antar manusia. (*)

Share This Article

Related Posts