Fakta Autopsi Juliana Marins di Brasil-RI: Bertahan Hidup 15 Menit

JAKARTA, Narayamedia – Hasil autopsi ulang jenazah Juliana Marins (26), backpakers asal Brasil menunjukkan temuan yang tak jauh berbeda dengan hasil autopsi sebelumnya di Indonesia.

Diketahui, Pemerintah Brasil resmi mengumumkan hasil itu, Kamis (10/7/2025) di Rio de Janeiro, Brasil.

Ini memperkuat kesimpulan jika Juliana tewas karena cedera serius usai jatuh dari tebing di ketinggian saat mendaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 21 Juni 2025 lalu.

Dikutip Narayamedia.com dari media Brasil, g1.globo.com, hasil autopsi menunjukkan bahwa penyebab langsung kematian perdarahan internal akibat trauma berat yang dialami Juliana usai terjatuh di jalur pendakian.

Alhasil, trauma itu menyebabkan kerusakan di sejumlah organ vital. Kondisi ini sesuai dampak benturan berenergi kinetik tinggi.

Tak hanya itu. Dokumen autopsi dari Brasil turut menyebut, Juliana sempat bertahan hidup sekitar 10-15 menit usai insiden benturan keras. Tapi, dalam kondisi tak mampu bergerak atau merespons.

Maka itu, sejumlah ahli di Brasil mengenyampingkan kemungkinan jika korban hidup dalam jangka waktu lama usai benturan.

Diketahui, temuan ini mirip hasil autopsi di Indonesia yang menyebut Juliana bertahan selama kurang lebih 20 menit usai benturan keras.

Selanjutnya, hasil autopsi itu diungkap dokter forensik Indonesia jika Juliana bertahan hidup sekitar 20 menit usai jatuh.

Dalam keterangan ke sejumlah media, Dokter Spesialis Forensik RS Bali Mandara, dokter Ida Bagus Putu Alit, pada 27 Juni lalu mengungkap penyebab utama kematian Juliana.

Antara lain luka berat akibat benturan benda tumpul, terutama di bagian punggung. Akibatnya, benturan keras itu memicu pendarahan hebat. Utamanya di rongga dada.

“Kalau kita perkirakan, 20 menit (setelah luka benturan),” ucap Putu Alit saat itu, kepada media.

Selanjutnya, pada pemeriksaan lanjutan, juga ditemukan banyak tulang patah di dada, tulang belakang, punggung, dan paha. Patah tulang itu menyebabkan kerusakan organ dalam, hingga memicu perdarahan masif, terutama di area dada.

Diketahui, Juliana mengawali pendakian Gunung Rinjani pada Jumat, 20 Juni 2025. Ia melintasi jalur Sembalun, bersama lima pendaki lain dari berbagai negara dan seorang pemandu.

Di hari kedua pendakian, ia merasa lelah. Ia meminta istirahat di kawasan Cemara Tunggal di ketinggian 2.900-3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Namun, sekitar pukul 04.00-05.00 WITA, Sabtu 21 Juni 2025, ia diduga terperosok ke jurang saat duduk terlalu dekat dengan tepi tebing. Ia jatuh ke arah Danau Segara Anak. Tim SAR berhasil mengevakuasi jenazahnya pada 25 Juni 2025 usai pencarian ekstrem selama beberapa hari.

Sayangnya, pihak keluarga, sebelumnya, masih menyimpan sejumlah keraguan soal waktu kematian. Serta kemungkinan kelalaian otoritas setempat, lalu meminta autopsi ulang di Brasil.

Jenazah Juliana diterbangkan ke kampung halamannya. Ia dimakamkan di Rio de Janeiro pada Jumat, 4 Juli 2025. (*)

Share This Article

Related Posts