JAKARTA, Naraya Media – Kabar gembira menyelimuti Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melejit 2,14% ke level 7.738 pada pembukaan perdagangan, Kamis (5/3). Lonjakan signifikan ini mengakhiri tren koreksi tajam yang sempat terjadi pada hari sebelumnya, di mana pasar sempat tertekan isu geopolitik dan pelemahan global.
Kenaikan tajam ini ditandai dengan menguatnya ratusan saham di berbagai sektor, memberikan napas lega bagi para pelaku pasar yang melakukan aksi bargain hunting atau perburuan saham di harga diskon.
Beberapa faktor kunci menjadi pendorong utama di balik “pesta” hijau di lantai bursa pagi ini:
Sektor Paling Diuntungkan
- Rebound Wall Street: Sentimen positif datang dari penguatan bursa saham Amerika Serikat yang memberikan efek domino ke pasar Asia, termasuk Indonesia.
- Penguatan Nilai Tukar Rupiah: Mata uang Garuda terpantau menguat bersamaan dengan naiknya indeks, memberikan kepercayaan diri lebih bagi investor asing.
- Aksi Beli Saham “Big Caps”: Saham perbankan raksasa seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) kembali menjadi motor penggerak utama indeks setelah sempat terkoreksi dalam.
Tips Strategi Investor
Berdasarkan data perdagangan sesi I, sektor keuangan dan energi menjadi primadona. Saham-saham seperti BBCA, BBRI, dan BMRI memimpin barisan penguatan.
Diikuti oleh saham lapis kedua yang juga mencatatkan kenaikan persentase dua digit. Investor mulai optimis bahwa level 7.700-an akan menjadi landasan baru untuk reli menuju target yang lebih tinggi.
Meski pasar sedang bergairah, para analis menyarankan untuk tetap waspada:
- Cermati Volume Transaksi: Pastikan kenaikan harga didukung oleh volume perdagangan yang tinggi untuk memastikan keberlanjutan tren rebound.
- Manfaatkan Momentum “Buy on Weakness”: Bagi Anda yang memiliki dana tunai, momentum ini bisa digunakan untuk masuk ke saham-saham berfundamental kuat yang harganya masih berada di bawah nilai wajar.
- Pantau Berita Global: Tetap awasi perkembangan kebijakan The Fed dan data inflasi global yang bisa memengaruhi volatilitas di sesi kedua.