Jakarta, NARAYA Media – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyebut ekosistem industri dan rantai pasok halal yang berada di bawah pengawasan dan regulasi jaminan produk halal (JPH) memberikan kontribusi 27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Nilainya mencapai sekitar Rp4.900 triliun.
“Kontribusi industri halal terhadap perekonomian nasional sangat besar, 27 persen bagi PDB nasional. Ini menunjukkan bahwa halal bukan hanya urusan sertifikasi, tetapi menjadi bagian penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia,” ucap Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dalam keterangan di Jakarta, Selasa (2/6).
Ia menilai kontribusi halal terhadap ekonomi sering terlihat secara langsung oleh masyarakat. Padahal, dampaknya sangat besar terhadap pergerakan sektor produksi, perdagangan, dan konsumsi nasional.
“Kontribusinya (halal) sangat besar bagi ekonomi dan kehidupan masyarakat, meskipun sering kali tidak terlihat secara langsung,” tamnbah Haikal.
Lebih lanjut, ia menegaskan halal tidak hanya berkaitan dengan sertifikasi produk semata, melainkan mencakup keseluruhan ekosistem dan rantai pasok yang melibatkan berbagai sektor termasuk industri pengolahan, logistik, perdagangan, hingga berbagai sektor jasa pendukung lainnya.
Budaya-Gaya Hidup
Maka itu, implementasi JPH, samnbunganya, turut menggerakkan aktivitas ekonomi pada berbagai sektor. Sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar domestik maupun global.
“Di balik satu produk halal terdapat rantai pasok yang panjang dan melibatkan jutaan pelaku usaha. Ketika ekosistem halal tumbuh, maka sektor produksi, distribusi, perdagangan, hingga ekspor juga ikut tumbuh. Halal menjadi salah satu instrumen penting dalam menciptakan nilai tambah ekonomi nasional,” papar Haikal.
Selain itu, lanjutnya, halal tidak boleh dipahami hanya sebagai persoalan makanan dan minuman atau semata-mata sebagai kewajiban agama. Menurutnya, halal merupakan bagian dari sistem nilai yang membangun kepercayaan, integritas, dan peradaban.
“Halal bukan hanya untuk Muslim. Halal adalah for all. Halal telah menjadi bagian dari gaya hidup modern dan simbol kualitas, kebersihan, keamanan, ketertelusuran, serta kepercayaan yang dibutuhkan masyarakat global saat ini,” kata Haikal.
Ketika halal menjadi budaya dan gaya hidup, sambungnya, maka yang tumbuh bukan hanya industri halal. Tetapi juga kepercayaan, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia. (*)