Jakarta, NARAYA Media – Pada momen jumpa pers di Jakarta, Sabtu (30/5/2026) lalu, aktris Acha Septriasa resmi mengumumkan debutnya sebagai sutradara sekaligus produser lewat film terbarunya, ‘9 Aku, Love Heals’. Proyek ambisius ini turut menggandeng aktris dan diaspora ternama Imelda Budiman untuk mengupas tuntas isu kesehatan mental.
Diketahui, film ‘9 Aku, Love Heals’ berfokus pada perjalanan seorang perempuan bernama Anastacia Wella asal Kediri, pengidap Dissociative Identity Disorder (DID) atau kepribadian ganda akibat trauma masa kecil.
Melalui rumah produksi Avarta Media, Acha menjelaskan jika film ini ingin menampilkan kompleksitas cinta tanpa syarat (unconditional love) untuk menyembuhkan luka batin.
Diketahui, keterlibatan Imelda dalam proses kreatif film ini membawa angin segar tersendiri. Sebagai aktris yang dikenal memiliki kepedulian sosial tinggi—termasuk didapuk sebagai perwakilan Perempuan Indonesia Maju (PIM) di Amerika Serikat—Imelda hadir memberikan kedalaman emosional pada alur cerita.
Imelda dan Acha banyak berdiskusi terkait bagaimana menerjemahkan beban psikologis penderita DID secara realistis. Namun, tetap menginspirasi penonton.
Dalam sesi jumpa pers itu, Acha-Imelda sepakat pembuatan film ini bukan hanya hiburan komersial. Namun, ruang edukasi publik soal pentingnya kepedulian terhadap dysfunctional family yang menimbulkan trauma. Termasuk juga kesehatan mental.
“Saya memang sudah ingin mengangkat kisah Anastacia Wella sejak tahun 2017. Saat itu, saya sedang mencari cerita nyata dari Indonesia yang unik, kuat, dan memiliki dampak sosial besar. Nama Wella cukup viral pada masa itu karena perjuangannya menghadapi DID yang masih sangat jarang dipahami masyarakat luas,” kata Imelda, Rabu (3/6/2026).

Imelda tertarik bukan hanya karena kondisi yang Wella alami. Namun, perjalanan penyembuhan dan kekuatan cinta di balik kisah tersebut.
“Saya melihat ada pesan kemanusiaan yang sangat dalam bahwa seseorang yang mengalami luka batin begitu kompleks tetap bisa menemukan harapan, pemulihan, dan makna hidup,” tambah Imelda yang telah 26 tahun menetap di AS bersama keluarga ini.
Sejak kali pertama mendengar ceritanya, Imelda merasa kisah ini layak untuk dibagikan kepada lebih banyak orang melalui medium film.
“Karena itu saat bertemu dengan tim yang memiliki visi sama, termasuk Acha dan Avarta Media, saya merasa inilah momentum tepat untuk mewujudkan impian yang sudah saya simpan bertahun-tahun,” tukas pemain film Matadewa dan Pariban: Idola dari Tanah Jawa ini.
Visi Besar Imelda Budiman
Bagi Imelda, ‘9 Aku, Love Heals’ bukan sekadar film. Namun, sebuah perjalanan untuk menghadirkan empati, pemahaman, dan harapan bagi masyarakat.
Diketahui, di film ini, Imelda terlibat dalam beberapa peran sekaligus. “Saya salah satu penulis bersama rekan saya, Andhu Malikulkusno. Lalu, bersama Avarta Media, saya juga terlibat sebagai Producer dan Executive Producer. Tak hanya di belakang layar, saya juga akan ikut bermain sebagai salah satu cast di film ini,” jelasnya.
Bagi jebolan ajang Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World 2014 ini, proyek tersebut sangat spesial. Sebab, bisa terlibat dari tahap pengembangan cerita hingga proses produksi hingga akhirnya tampil di depan kamera. Bukan tanpa alasan, ada visi khusus Acha yang langsung membuat Imelda klik dan yakin menyambut tawaran ini.
“Karena Acha, Arya, dan Ardi memiliki kesamaan visi dalam melihat kisah Wella. Kami percaya, ini bukan sekadar cerita tentang seseorang yang hidup dengan DID. Tetapi, cerita tentang harapan, cinta, keluarga, dan penyembuhan,” katanya.
Walau Imelda berada di Washington DC dan Acha di Sydney, mereka rutin facetime untuk berdiskusi di proyek ini. Imelda menambahkan, ada tantangan tersendiri yang dirasakan saat mengembangkan cerita di film ini. Seperti merangkai berbagai dinamika kehidupan Wella sejak masa kecilnya hingga akhirnya bertemu Yoandi dan menikah.

“Wella memiliki harapan agar film ini merepresentasikan sekitar 90 persen dari kisah nyata yang ia alami. Tentu, itu menjadi tanggung jawab besar bagi kami sebagai penulis,” tukas wanita yang belum lama ini masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu.
Selain itu, lanjutnya, DID adalah kondisi sangat kompleks. Saat seseorang berada dalam salah satu alter personality-nya, ia tak mengingat apa yang terjadi ketika alter lain mengambil alih.
“Karena itu, kami harus riset, diskusi, dan penelusuran mendalam agar cerita yang disampaikan tetap autentik. Namun, dapat dipahami penonton. Prosesnya sangat menantang tetapi sangat memuaskan,” jelasnya.
Bagi Imelda, pesan atau benang merah yang paling kuat dari film itu bahwa setiap orang, khususnya perempuan, memiliki kemampuan untuk bangkit dan menemukan harapan. Bahkan setelah alami luka sangat dalam.
“Kisah Wella mengajarkan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan seseorang. Melalui film ini, saya ingin menyampaikan bahwa cinta, dukungan keluarga, persahabatan, dan lingkungan sehat dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan seseorang,” katanya.
Dia juga berharap, film ini dapat mendorong masyarakat untuk memiliki empati lebih besar terhadap pentingnya hubungan yang baik dengan anak. Termasuk terhadap penyetas kesehatan mental, agar tidak mudah memberikan stigma kepada mereka yang sedang berjuang.
“Sebagai seseorang yang aktif dalam pemberdayaan perempuan melalui PIM USA, saya percaya bahwa kekuatan perempuan bukan berarti tak pernah terluka. Melainkan memiliki keberanian terus melangkah, bertumbuh, dan mengubah pengalaman hidup menjadi sesuatu bermakna bagi orang lain,” tutupnya. (*)