Jakarta, NARAYA Media – Bagi Imelda Budiman, film ‘9 Aku, Love Heals’ yang dikenalkan secara publik di Jakarta pada Sabtu (30/5/2026) bukan sekadar film. Namun, perjalanan dalam menghadirkan empati, pemahaman, dan harapan bagi masyarakat.
Menariknya, dalam film ini, Imelda ternyata terlibat dalam beberapa peran sekaligus. “Saya salah satu penulis bersama rekan saya, Andhu Malikulkusno. Lalu, bersama Avarta Media, saya terlibat sebagai produser dan Executive Producer. Tak hanya di belakang layar, saya juga akan ikut bermain sebagai salah satu cast di film ini,” jelasnya.
Buat mantan Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World 2014 ini, proyek ini begitu spesial. Sebab, bisa terlibat dari tahap pengembangan cerita hingga proses produksi hingga akhirnya tampil di depan kamera. Bukan tanpa alasan, ada visi khusus dari Acha yang membuat Imelda klik dan yakin menyambut tawaran ini.
“Karena Acha, Arya, dan Ardi memiliki kesamaan visi dalam melihat kisah Wella. Kami percaya, ini bukan sekadar cerita tentang seseorang yang hidup dengan DID. Tapi cerita tentang harapan, cinta, keluarga, dan penyembuhan,” tambahnya.
Walaupun Imelda berada di Washington DC dan Acha di Sydney, mereka rutin facetime untuk berdiskusi di proyek ini. Imelda menambahkan, ada tantangan khusus yang dirasakan saat mengembangkan cerita di film ini. Seperti merangkai berbagai dinamika kehidupan Wella sejak masa kecilnya hingga akhirnya bertemu Yoandi dan menikah.
“Wella memiliki harapan agar film ini merepresentasikan sekitar 90 persen dari kisah nyata yang ia alami. Tentu, itu menjadi tanggung jawab besar bagi kami sebagai penulis,” tukas wanita yang pernah masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025.

Keterlibatan Perempuan Indonesia Maju (PIM) USA
Selain itu, lanjutnya, DID adalah kondisi sangat kompleks. Saat seseorang berada dalam salah satu alter personality-nya, ia tak mengingat apa yang terjadi ketika alter lain mengambil alih.
“Karena itu, kami harus riset, diskusi, dan penelusuran mendalam agar cerita yang disampaikan tetap autentik namun dapat dipahami penonton. Prosesnya sangat menantang, tetapi sangat memuaskan,” jelasnya.
Bagi Imelda, pesan atau benang merah yang paling kuat dari film itu bahwa setiap orang, khususnya perempuan, memiliki kemampuan untuk bangkit dan menemukan harapan. Bahkan setelah alami luka sangat dalam.
“Kisah Wella mengajarkan bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan seseorang. Melalui film ini, saya ingin menyampaikan bahwa cinta, dukungan keluarga, persahabatan, dan lingkungan sehat dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan seseorang,” ujarnya.
Dia juga berharap, film ini dapat mendorong masyarakat untuk memiliki empati lebih besar terhadap pentingnya hubungan yang baik dengan anak. Termasuk terhadap penyetas kesehatan mental, agar tidak mudah memberikan stigma kepada mereka yang sedang berjuang.
“Sebagai seseorang yang aktif dalam pemberdayaan perempuan melalui PIM USA, saya percaya bahwa kekuatan perempuan bukan berarti tak pernah terluka. Melainkan memiliki keberanian terus melangkah, bertumbuh, dan mengubah pengalaman hidup menjadi sesuatu bermakna bagi orang lain,” jelasnya. (*)