Setop Cari Kerja! Ini Trik Menangkan Persaingan Kerja ala Faizal Hermiansyah

Tokoh muda sekaligus Ketua OKK BPD HIPMI Banten periode 2025-2028, Faizal Hermiansyah, saat sambutan di Forbisda HIPMI Banten 2026 di Kota Serang, Banten, pada 7–8 Mei 2026. (NARAYA Media/Dok. NARAYA Media)

Jakarta, NARAYA Media – Mengirimkan ratusan resume secara membabi buta ke sejumlah perusahaan merupakan cara terbaik untuk tetap menjadi pengangguran. Di tengah ketatnya persaingan bursa kerja saat ini, metode konvensional seperti berburu lowongan di portal karier (job portal) justru dinilai sudah tak efektif lagi dan usang.

Tokoh muda sekaligus Ketua OKK BPD HIPMI Banten periode 2025-2028, Faizal Hermiansyah, membagikan pandangan radikalnya: jika ingin memenangkan persaingan, aturan pertamanya ialah setop mencari kerja.

Lalu, apa maksud di balik pernyataan kontroversial ini?

Mentalitas ‘mencari’ menempatkan calon pekerja pada posisi yang lemah atau pemohon. Faizal Hermiansyah menekankan bahwa perusahaan tidak mencari orang yang butuh pekerjaan. Melainkan mencari solusi atas masalah mereka.

Jika sibuk mencari kerja, Anda fokus pada apa yang Anda inginkan. Bukan apa yang industri butuhkan. Pola pikir ini yang harus segera diubah.

“Anak muda sekarang memiliki akses informasi tak terbatas. Kuncinya adalah adaptabilitas, upskilling, dan keberanian untuk tidak hanya mencari kerja. Tapi, merintis usaha sendiri (entrepreneurship),” tegas Faizal Hermiansyah, Minggu (12/7/2026).

Menurut Faizal, anak muda hari ini memegang kekuatan besar yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: akses informasi tanpa batas di ujung jari.

“Di era digital dan konektivitas yang kian mudah, batasan geografis dan finansial untuk belajar nyaris terhapus. Tidak perlu lagi bergantung pada instansi pendidikan formal atau pelatihan konvensional untuk menguasai keterampilan baru,” jelasnya.

Adaptabilitas – Upskilling

Akses ini adalah kunci utama untuk membalikkan keadaan. Selain itu, kunci untuk bertahan di era modern ini bergeser secara drastis. Jika dulu ijazah menjadi jaminan mutlak, hari ini yang berkuasa adalah adaptabilitas dan upskilling.

Dunia berubah sangat cepat. Perusahaan atau industri dapat bertransformasi dalam hitungan bulan. Faizal menambahkan, persaingan kerja semakin tidak masuk akal. Pasalnya, jumlah lowongan kerja dan pencari kerja tidak seimbang.

“Anak muda dikorbankan oleh kegagalan makro ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja padat karya,” jelasnya.

Adapun, makna dari adaptabilitas adalah kemampuan untuk luwes dan cepat merespons perubahan pasar, tren, dan teknologi. Sementara upskilling adalah proses pembelajaran berkelanjutan untuk meningkatkan keahlian agar tetap relevan. Mereka yang berhenti belajar di era kecerdasan buatan (AI) akan tergilas oleh zaman.

Alih-alih menghabiskan energi untuk bersaing dengan ribuan pencari kerja lainnya, keberanian adalah modal utama untuk merintis usaha sendiri (entrepreneurship).

Namun, menjadi wirausahawan di usia muda mungkin terdengar berisiko. Namun, kenyataannya, mencari pekerjaan di tengah ketidakseimbangan ekonomi saat ini jauh lebih berisiko bagi masa depan finansial. (*)

Share This Article

Related Posts