Awal Mula Imelda Budiman Terpilih Jadi Ratu Suhita di Pentas ‘The Oath’ Washington D.C.

Imelda Budiman dalam penampilannya di pentas drama musikal bertajuk The Oath di Washington D.C., Amerika Serikat (AS), pada Sabtu, 25 Juli 2026. (NARAYA Media/Dok.pribadi)

Jakarta, NARAYA Media – Gema Sumpah Palapa yang disuarakan oleh Mahapatih Gajah Mada melintasi batas benua dan memukau publik ibu kota Amerika Serikat (AS). Pementasan drama musikal bertajuk The Oath sukses digelar di University of the District of Columbia, Washington DC, Sabtu (25/7/2026).

Ajang seni ini menjadi sorotan utama sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia yang membanggakan di kancah internasional.

Pertunjukan megah ini menceritakan perjalanan hidup Gajah Mada. Mulai dari latar belakangnya sederhana hingga mencapai puncak kejayaannya sebagai mahapatih yang paling disegani di Kerajaan Majapahit.

Kemegahan panggung kain terasa istimewa oleh kehadiran para talenta dan diaspora Indonesia di AS. Salah satu yang paling mencuri perhatian penonton ialah penampilan Imelda Budiman. Dia seorang diaspora Indonesia di AS, yang tampil memukau dengan memerankan tokoh penting kerajaan, yaitu Ratu Suhita.

Lalu, bagaimana Imelda mendalami karakter Ratu Suhita di pementasan The Oath?

Honored untuk diundang oleh Indonesia Kid Performing Arts (IKPA) untuk ikut serta dalam pementasan Oath ini. Apalagi dengan peran cantik Ratu Suhita, salah satu ratu yang pernah memimpin Kerajaan Majapahit,” kata Imelda, Jumat (31/7/2026), dalam keterangan resmi kepada NARAYA Media.

Imelda mengakui, dirinya memulai dengan mempelajari sejarah Ratu Suhita. Dia ingin memahami bukan hanya fakta sejarahnya. “Tetapi juga karakter beliau sebagai seorang pemimpin perempuan yang bijaksana, tegas, dan mengutamakan persatuan. Bagi saya, memerankan Ratu Suhita bukan sekadar memainkan peran. Tetapi juga membawa semangat kepemimpinan perempuan Indonesia ke atas panggung,” jelasnya.

Hiburan Berkelas

Imelda menambahkan, sempat menghadapi tantangan terbesar dalam memadukan akting musikal modern dengan nuansa sejarah kerajaan Majapahit di panggung internasional ini.

Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan antara nilai historis dan penyajian yang dapat dinikmati oleh penonton dengan latar belakang budaya beragam.

“Apalagi banyak penonton AS juga. Kami ingin cerita ini tetap autentik. Tetapi juga emosional dan mudah dipahami oleh mereka yang mungkin belum mengenal sejarah Majapahit. Justru di situlah seni berperan—menjadikan sejarah terasa hidup dan dekat bagi siapa saja,” tukasnya.

Adapun, perpaduan aransemen musik tradisional dan modern, tata panggung artistik, hingga kuatnya pendalaman karakter dari para pemeran membuat penonton terhanyut dalam sejarah kejayaan masa lampau Nusantara.

Pementasan The Oath di Washington DC ini tak hanya menjadi hiburan berkelas. Tetapi juga mempererat rasa cinta Tanah Air. Serta memperkenalkan luhurnya budaya Indonesia kepada masyarakat global di AS.

Diketahui, drama musikal tersebut diproduksi oleh IKPA di bawah pimpinan Gabriella Hasnan, dengan melibatkan 102 seniman. Pementasan disutradarai Nadia Syahmalina dan diiringi orkestra yang dipimpin komposer Ulung Tanoto

Penampilan para artis tamu, yakni Nining Sri Astuti, Ayu Azhari, Lennon Tramp, Yuyun George, Rendy Wicaksono, hingga Imelda Budiman, ikut memperkaya pertunjukan.

Duta Besar Republik Indonesia untuk RI Indroyono Soesilo, mengaitkan gelaran The Oath dengan momentum peringatan 250 tahun Kemerdekaan AS yang diperingati pada 4 Juli 2026. Sekaligus menyongsong Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026. (*)

Share This Article

Related Posts