Amerika Serikat, NARAYA Media – Perayaan dan makna Hari Kartini, sangat erat kaitannya dengan semangat perjuangan dan emansipasi wanita. Kartini bukan sekadar tokoh sejarah. Namun, simbol perjuangan perempuan menembus batasan sosial. Terutama dalam memperoleh pendidikan dan kebebasan berpikir.
Imelda Budiman–diaspora yang telah menetap 28 tahun di Amerika Serikat (AS)–dalam memperingati Hari Kartini pada 21 April, mengajak para perempuan terus maju.
Sekaligus memaknai prinsip emansipasi wanita. Bagi Imelda, emansipasi wanita bukan sekadar tentang kesetaraan posisi dengan laki-laki.
“Tetapi tentang kebebasan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita—tanpa kehilangan jati diri sebagai perempuan. Terinspirasi dari pemikiran R.A. Kartini, emansipasi adalah tentang akses pendidikan, kesempatan berkarya, dan keberanian bersuara,” kata mantan Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World ini, dalam keterangan resmi, Selasa (21/4).
Namun, lebih dari itu, diakuinya, ini juga tentang pilihan—memilih untuk berkarier, berkeluarga. Atau keduanya dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan rasa syukur. Namun, di sisi lain, tak sedikit tantangan emansipasi wanita dalam dunia kerja atau pengusaha perempuan saat ini.
“Salah satu tantangan terbesar adalah ekspektasi ganda. Perempuan sering kali dituntut untuk sukses secara profesional. Tetapi, tetap memenuhi standar sosial sebagai “perempuan ideal”,” jelas pemain di film Matadewa dan Pariban: Idola dari Tanah Jawa ini.
Dalam dunia kerja dan bisnis, lanjut Imelda, masih ada bias yang halus—perempuan harus bekerja lebih keras untuk diakui. Selain itu, rasa ragu dalam diri (self-doubt) juga sering menjadi hambatan yang tak terlihat.

Yayasan Perempuan Indonesia Maju USA
Namun, di sisi lain, ini juga peluang untuk saling mendukung dan membangun komunitas perempuan yang saling menguatkan.
“Untuk itu, saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk bergabung bersama Perempuan Indonesia Maju (PIM). Yayasan yang bertujuan untuk memberdayakan wanita atas perwakilan di AS,” jelas wanita yang pada 12-15 November 2025 masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) ini.
Namun, apa tantangan terbesar perempuan karier saat ini dalam menyeimbangkan ‘power’ di luar rumah dan kehangatan di dalam keluarga?
Diakuinya, tantangan terbesarnya, yakni menjaga keseimbangan tanpa kehilangan diri sendiri.
“Di luar rumah, kita dituntut untuk kuat, tegas, dan kompetitif. Namun, di dalam keluarga, kita ingin tetap hadir dengan kelembutan dan kehangatan. Kuncinya bukan pada kesempurnaan, tapi pada kehadiran yang utuh—being present,” papar sineas yang sedang persiapan film berikutnya bertemakan kesehatan mental.
Kemudian, sambungnya, belajar untuk menetapkan prioritas, dan memberi batasan. Juga menerima bahwa kadang tak semua harus sempurna adalah bagian dari perjalanan tersebut.
Sejatinya, perempuan Indonesia bisa mengenalkan budaya dan nilai-nilai ke Indonesiaan kepada dunia tanpa kehilangan identitas modern.
Namun, menurut Imelda, justru keunikannya sebagai perempuan Indonesia terletak pada kemampuan untuk memadukan tradisi dan modernitas.
“Kita bisa memperkenalkan budaya melalui karya, gaya hidup, dan cara kita berinteraksi— dengan tetap relevan di era global. Baik itu melalui fashion, kuliner, maupun nilai-nilai seperti keramahan dan kebersamaan, semua bisa menjadi “bahasa universal.”
Menurutnya, menjadi modern tidak berarti meninggalkan akar kita. “Namun, membawa budaya Indonesia melangkah lebih jauh dengan cara yang elegan dan autentik,” katanya, tersenyum. (*)