Imelda Budiman: Menjadi Kartini Modern Tak Harus Berarti Meninggalkan Akar Tradisi

Imelda Budiman. (NARAYA Media/Dok.pribadi)

JAKARTA, NARAYA Media – Diaspora Imelda Budiman–yang telah menetap 28 tahun di Amerika Serikat (AS)–sering dikaitkan dengan sosok Kartini modern. Tidak hanya menonjolkan kecantikan fisik. Tetapi juga kecerdasan, kepribadian, dan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Namun, di sisi lain, hal ini juga menjadi peluang untuk saling mendukung dan membangun komunitas perempuan yang saling menguatkan.

“Untuk itu, saya sangat bersyukur mendapat kesempatan akan bergabung bersama Perempuan Indonesia Maju (PIM) USA. Yayasan yang bertujuan untuk memberdayakan wanita atas perwakilan di AS,” kata mantan Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World ini, Selasa (21/4).

Namun, apa tantangan terbesar perempuan karier saat ini dalam menyeimbangkan ‘power’ di luar rumah dan kehangatan di dalam keluarga?

Diakuinya, tantangan terbesarnya, yakni menjaga keseimbangan tanpa kehilangan diri sendiri.

“Di luar rumah, kita dituntut untuk kuat, tegas, dan kompetitif. Namun, di dalam keluarga, kita ingin tetap hadir dengan kelembutan dan kehangatan. Kuncinya bukan pada kesempurnaan, tapi pada kehadiran yang utuh—being present,” paparnya.


Keunikan Perempuan Indonesia

Kemudian, sambungnya, belajar untuk menetapkan prioritas, dan memberi batasan. Juga menerima bahwa kadang tak semua harus sempurna adalah bagian dari perjalanan tersebut.

Sejatinya, perempuan Indonesia bisa mengenalkan budaya dan nilai-nilai ke Indonesiaan kepada dunia tanpa kehilangan identitas modern.

Namun, menurutnya, justru keunikannya sebagai perempuan Indonesia terletak pada kemampuan untuk memadukan tradisi dan modernitas.

“Kita bisa memperkenalkan budaya melalui karya, gaya hidup, dan cara kita berinteraksi— dengan tetap relevan di era global. Baik itu melalui fashion, kuliner, maupun nilai-nilai seperti keramahan dan kebersamaan, semua bisa menjadi “bahasa universal.”

Menurut wanita yang belum lama ini masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025, menjadi modern tidak berarti meninggalkan akar kita.

“Namun, membawa budaya Indonesia melangkah lebih jauh dengan cara yang elegan dan autentik,” ucapnya, tersenyum. (*)

Share This Article

Related Posts