Jakarta, NARAYA Media – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (20/6) pagi, berbalik menguat atau rebound di tengah pelaku pasar mencermati pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI hari ini.
IHSG pukul 09.45 WIB berbalik menguat 54,58 poin atau 0,86 persen ke posisi 6.425,26. Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 9,07 poin atau 1,43 persen ke posisi 643,89, setelah sebelumnya dibuka melemah.
“Secara teknikal, area 6.300 menjadi support psikologis yang sangat penting bagi IHSG. Jika level ini mampu dipertahankan, peluang rebound menuju area 6.500-6.535 masih terbuka. Namun, jika support tersebut ditembus, maka risiko pelemahan lanjutan akan semakin besar karena pasar akan mulai masuk fase krisis kepercayaan jangka pendek,” kata analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana di Jakarta, Rabu (20/6), dikutip dari Antara.
Dari dalam negeri, Hendra menjelaskan dalam jangka pendek perhatian pelaku pasar tertuju pada pidato Presiden Prabowo di sidang paripurna DPR. Pelaku pasar akan menantikan arah kebijakan fiskal, strategi menjaga stabilitas ekonomi, langkah penguatan rupiah, hingga bagaimana pemerintah merespons tekanan pasar keuangan yang semakin besar.
Hendra mengatakan jika pidato itu mampu memberikan kejelasan arah kebijakan, disiplin fiskal, serta sinyal keberpihakan terhadap stabilitas pasar dan dunia usaha, maka sentimen pasar berpotensi membaik dan IHSG memiliki peluang technical rebound.
“Namun, jika pelaku pasar menilai belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, maka tekanan terhadap pasar domestik masih berpotensi berlanjut,” kata Hendra.
Hendra menjelaskan pelaku pasar saat ini tak hanya membutuhkan sentimen positif, namun juga membutuhkan kepercayaan. Ketika global mulai mereda namun IHSG tetap runtuh. Artinya, investor sedang menunggu kepastian arah ekonomi Indonesia ke depan.
“Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah,” jelasnya.
Di sisi lain, faktor lain yang sangat diperhatikan pelaku pasar adalah pergerakan nilai tukar rupiah. Adapun pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi impor, namun juga meningkatkan kekhawatiran terhadap beban utang luar negeri korporasi serta risiko fiskal pemerintah.
Gangguan Pasokan Dunia
“Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar. Oleh karena itu, stabilitas rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi salah satu penentu utama apakah pasar bisa mulai rebound atau justru kembali mengalami panic selling,” kata Hendra.
Selain itu, pelaku pasar akan mencermati pertemuan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan akan menaikkan BI-Rate tetap di 5,00 persen pada siang hari ini.
Dari mancanegara, Hendra menjelaskan, sentimen sebenarnya mulai membaik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi damai.
Adapun pernyataan tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dunia dan memicu penurunan harga minyak mentah.
Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) kemarin, bursa saham Eropa bergerak variatif, diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,07 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,07 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,38 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,07 persen.
Sementara itu, bursa AS Wall Street juga kompak melemah pada Selasa (19/5/2026), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,65 persen, indeks S&P 500 melemah 0,67, dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,61 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 845,59 poin atau 1,39 persen ke 59.710,00, indeks Shanghai melemah 18,22 poin atau 0,44 persen ke 4.151,32, indeks Hang Seng melemah 213,85 poin atau 0,83 persen ke 25.548,50, dan indeks Strait Times melemah 39,01 poin atau 0,77 persen ke 5.033,52. (*)