Cara Imelda Budiman Rayakan HUT RI ke-81 di AS: Kenalkan Seni Budaya ke Tetangga Sekitar

Jakarta, NARAYA Media – Perayaan HUT kemerdekaan RI ke-81 tak hanya dirayakan di dalam negeri. Tapi juga menggema di berbagai penjuru dunia.

Komunitas diaspora Indonesia yang sudah tinggal di Amerika Serikat (AS) lebih dari 26 tahun, sekaligus senias film dan aktivis sosial Imelda Budiman, merefleksikan arti penting kemerdekaan melalui aksi nyata bagi bangsa.

Menurut Imelda, jarak geografis bukan halangan untuk terus mencintai dan membangun negeri. Jaringan internasional yang dimiliki para WNI di luar negeri memegang kunci penting dalam mengakselerasi pertumbuhan Indonesia di kancah global.

“Menurut saya, paling penting adalah membangun jembatan—bukan hanya mengirim sesuatu ke Indonesia. Tapi, membawa pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan kesempatan,” kata Imelda, yang kini sedang garap proyek film anyar ‘9 Aku, Love Heals’ bersama Acha Septriasa ini, kepada NARAYAMedia.com, Kamis (20/8).

Imelda mengungkap, diaspora Indonesia di berbagai negara memiliki keahlian, pengalaman profesional, dan luasnya jaringan internasional.

“Semua itu bisa kita gunakan untuk membuka peluang bagi Indonesia. Baik di bidang pendidikan, entrepreneurship, teknologi, seni, budaya, maupun ekonomi,” ujar jebolan dari Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World 2014 ini.

Imelda menambahkan, bersama Perempuan Indonesia Maju (PIM) USA, dia melihat betapa pentingnya perempuan Indonesia di diaspora untuk saling menguatkan. Serta berbagi pengalaman, dan menciptakan kolaborasi.

“Saya percaya kita tidak harus menunggu menjadi besar untuk berkontribusi. Dari hal sederhana seperti mengenalkan produk dan budaya Indonesia, membantu generasi muda, hingga membuka networking dan peluang. Semua bisa menjadi bagian dari kontribusi kita untuk Indonesia,” papar wanita yang pernah masuk nominasi AIFFA (Asean International Film Festival & Awards) 2025 kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu.

Medium Diplomasi

Terlebih, melalui jalur seni, film, dan kegiatan sosial yang selama ini Imelda geluti. Artinya, karya-karya tersebut menjadi medium diplomasi budaya untuk memperkenalkan Indonesia di kancah global.

“Saya percaya, seni dan film adalah bahasa universal. Bahkan saat ini, media sosial juga menjadi salah satu medium diplomasi budaya yang sangat powerful. Ketika kita mengangkat kisah dari daerah, tradisi, kehidupan masyarakat, atau kekayaan budaya Indonesia, sebenarnya kita sedang memperkenalkan wajah Indonesia kepada dunia,” paparnya.

Imelda berbagi kisah. Bulan lalu, ketika berada di Indonesia sekitar satu bulan dan berkunjung ke beberapa kota seperti Surabaya, Bandung, dan Cirebon, ia banyak membagi pengalaman dan budaya lokal melalui media sosial.

“Ternyata responsnya sangat positif. Teman-teman dan tetangga saya di sini banyak yang tertarik. Bahkan bertanya lebih jauh tentang Indonesia dan tempat-tempat yang bisa mereka kunjungi suatu saat nanti,” tukasnya bersemangat.

Bagi Imelda, inilah bentuk diplomasi budaya yang sangat kuat—soft power yang tidak terasa menggurui, tapi membuat orang penasaran, tertarik. Kemudian menghargai Indonesia.

“Begitu juga melalui kegiatan sosial dan komunitas. Ketika kita membawa budaya Indonesia ke tengah masyarakat internasional, bukan hanya memperkenalkan tarian, musik, makanan, atau pakaian tradisional. Tapi juga nilai-nilai seperti gotong royong, keramahan, persaudaraan, dan keberagaman,” jelas pemain film Matadewa dan Pariban: Idola dari Tanah Jawa ini.

Dia berharap, apa pun yang ia lakukan melalui seni, film, media sosial, maupun kegiatan sosial dapat menjadi bagian kecil dari perjalanan untuk membuat Indonesia semakin dikenal, dihargai, dan dicintai di dunia. (*)

Share This Article

Related Posts