Serang, NARAYAMedia.com — Ketua HIPMI Stocks Banten, Budi Ridhollah, menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi peringatan penting untuk memperkuat transparansi, tata kelola, dan perlindungan investor di pasar modal Indonesia.
Pada pembukaan perdagangan, Jumat (16/10/2026), IHSG turun 8,01 persen ke level 5.393,92 sehingga perdagangan dihentikan sementara.
Tekanan pasar terjadi di tengah rencana konsultasi MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Perubahan tersebut belum merupakan keputusan final.
Menurut Budi, kepercayaan investor perlu dijaga melalui kebijakan yang jelas. Keterbukaan informasi, serta pelaksanaan reformasi yang dapat diukur.
“Kepercayaan merupakan fondasi pasar modal. Untuk memulihkannya, diperlukan keterbukaan data, konsistensi kebijakan, dan penegakan aturan yang bisa dilihat hasilnya oleh investor,” ujar Budi, dalam keterangan resmi diterima NARAYAMedia.com, Jumat (16/10/2026).
Ia mendorong otoritas dan penyelenggara bursa untuk memberikan penjelasan yang terkoordinasi mengenai kondisi pasar.
Serta langkah perbaikan yang sedang dilakukan. Kejelasan informasi dinilai penting agar ruang spekulasi dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi tidak semakin memperbesar kepanikan.
Budi juga menyoroti keterkaitan pasar modal dengan keberlangsungan dunia usaha.
Menurutnya, jika tekanan pasar berlanjut dan disertai pelemahan rupiah, pelaku usaha dapat menghadapi kenaikan biaya bahan baku impor.
Lalu, kebutuhan modal kerja, serta tantangan pembiayaan ekspansi.
“Bagi pengusaha muda, gejolak ini perlu menjadi pengingat untuk menjaga arus kas dan menghitung kembali risiko usaha. Perusahaan yang bergantung pada barang impor perlu mencermati perubahan biaya agar operasional tetap terjaga,” katanya.
Kepada investor, khususnya generasi muda, Budi mengajak agar keputusan investasi tetap didasarkan pada informasi yang terverifikasi. Lalu,kondisi keuangan pribadi dan pemahaman terhadap risiko.
“Jangan mengambil keputusan hanya karena panik atau tergiur anggapan bahwa semua saham yang turun pasti murah. Pelajari kondisi perusahaan dan sesuaikan keputusan dengan kemampuan menanggung risiko,” tegasnya.
Ia menilai penguatan literasi keuangan perlu berjalan bersama pembenahan tata kelola pasar.
Investor membutuhkan pemahaman yang memadai sekaligus ekosistem perdagangan yang transparan dan dapat dipercaya.
“Momentum ini harus menjadi dorongan untuk memperbaiki kualitas pasar modal Indonesia. Kita membutuhkan pasar yang kredibel agar mampu mendukung pembiayaan usaha dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” tutup Budi. (*)