Jakarta, NARAYA Media – Menurut studi dari Universitas Birmingham, kebiasaan tidur yang buruk semasa anak-anak berisiko lebih tinggi mengalami diagnosis depresi saat memasuki masa remaja.
Menurut laporan People, pada Minggu (14/6), dalam penelitian dari tim akademisi dari Universitas Birmingham menganalisis data lebih dari 15.000 anak yang dikumpulkan melalui studi Children of the 90s, yang juga dikenal sebagai Avon Longitudinal Study of Parents and Children, sebagaimana dilaporkan The Independent.
Penulis utama studi dari Universitas Birmingham, Dr. Isabel Morales-Muñoz mengatakan studi itu menemukan sejumlah kecil anak yang mengalami durasi tidur pendek secara konsisten sepanjang masa kanak-kanak memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi saat remaja.
“Risiko yang meningkat dua kali lipat mungkin terdengar besar, tetapi masalah tidur yang menetap hanya dialami oleh sebagian kecil peserta studi, dan hanya sebagian kecil pula yang kemudian mengalami gejala depresi yang berkelanjutan,” tukas Dr. Isabel, dikutip dari Antara.
Dalam penelitian itu, durasi tidur peserta dihitung pada berbagai tahap usia, mulai saat mereka masih bayi berusia 6 bulan, 18 bulan, dan 30 bulan. Pengamatan kemudian berlanjut saat mereka berusia 3,5 tahun, 4–5 tahun, 5–6 tahun, hingga 6–7 tahun.
Para peserta yang sama kemudian dievaluasi terkait gejala depresi yang mereka laporkan sendiri pada usia 12,5 tahun, 13,5 tahun, 16 tahun, 17,5 tahun, 21 tahun, dan 22 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak berusia 6 bulan hingga 7 tahun yang secara konsisten memiliki durasi tidur lebih pendek dua kali lebih mungkin melaporkan tingkat depresi yang tinggi saat berusia 13 hingga 22 tahun.
Tim peneliti menyebut studi ini sebagai penelitian pertama yang menunjukkan “efek merugikan dari durasi tidur malam yang terus-menerus lebih pendek sejak masa bayi hingga masa kanak-kanak terhadap bentuk gejala depresi yang lebih berat dan menetap selama masa remaja hingga awal kedewasaan.
Perilaku Tidur
Dr. Isabel menambahkan bahwa tidur merupakan aspek kehidupan anak yang dapat diperbaiki tanpa memerlukan intervensi medis. “Upaya mengatasi masalah tidur yang berlangsung lama selama masa kanak-kanak akan memberikan banyak manfaat, termasuk mengurangi potensi risiko kesehatan mental,” jelasnya.
Sementara, salah satu penulis studi lainnya, Dr. Rebekah Amos, menyatakan penelitian ini membantu meningkatkan pemahaman mengenai faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko depresi yang lebih berat dan berlangsung lama pada kaum muda.
Para peneliti menyampaikan bahwa tidur merupakan “faktor yang dapat dimodifikasi”, sehingga kebiasaan tidur anak masih bisa diperbaiki melalui berbagai langkah sederhana. Beberapa cara yang disarankan antara lain mendorong anak tidur lebih awal dan memiliki jadwal tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan layar atau gawai sebelum tidur.
Kemudian, membiasakan anak aktif secara fisik pada siang hari, serta menciptakan lingkungan tidur yang tenang dan nyaman. Menurut Dr. Morales-Muñoz, langkah-langkah tersebut mungkin tidak selalu mudah dilakukan, tetapi sering kali lebih sederhana dibandingkan penanganan gejala emosional yang sudah muncul.
Dalam penelitian ini, tim juga meneliti peran peradangan (inflamasi) terhadap gangguan tidur pada anak yang kemudian dapat berkontribusi pada munculnya gejala depresi saat remaja.
Studi yang didukung oleh National Institute for Health and Care Research (NIHR) Biomedical Research Centre: Oxford Health itu menemukan bahwa salah satu penanda inflamasi, yaitu IL-6, kemungkinan memiliki peran dalam hubungan tersebut.
Namun, hal yang sama tidak ditemukan pada CRP (C-reactive protein), yaitu penanda yang mencerminkan akumulasi peradangan kronis dalam tubuh. Amos mengatakan perbaikan perilaku tidur dan rutinitas sebelum tidur berpotensi menghentikan atau mengurangi efek tersebut.
“Temuan ini menunjukkan bahwa gangguan tidur kronis dapat berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental jangka panjang melalui jalur biologis, termasuk peradangan,” papar Amos. (*)