JAKARTA, Naraya Media – Memasuki tahun 2026, sektor pariwisata Indonesia berada di titik balik cukup krusial. Usai melintasi masa stabilisasi dan pemulihan di tahun-tahun sebelumnya, saatnya kini para pelaku industri menerapkan akselerasi.
Akselerasi yang dimaksud, menurut Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Ngadiman Sudiaman, antara lain digitalisasi dan sustainable tourism.
“Asparnas selalu melihat bahwa digitalisasi dan sustainable tourism sangat berkaitan dan saling menunjang satu sama lain. Digitalisasi sangat menjadi andalan buat kita mengembangkan pariwisata secara berkelanjutan,” jelas Ngadiman.
Di antaranya, lanjut Ngadiman, mulai dari strategi marketing hingga kenyamanan booking.
“Lalu, melalui OTA (online travel agency), data driven tourism, hingga review atas experiment selama menjalankan perjalanan sampai pada sosial media dan promosi di sosial media,” tambahnya.
Semua ini, ungkapnya, harus dijalankan dengan baik oleh pelaku usaha wisata. Menurutnya, pelaku harus bisa membaca data dengan baik sehingga bisa melakukan strategi yang tepat.
“Baik itu segmentasi, pricing, promosi, review sebelum dan sesudah perjalanan. Semua pelaku harus melek, bisa membaca data dan menggunakan AI dalam membantu mereka menjalankan bisnisnya dengan baik,” jelasnya.
Oleh karena itu, dibutuhkan resolusi dalam meningkatkan kualitas SDM pariwisata agar mampu bersaing di level internasional.
Soal itu, Ngadiman menilai bahwa peningkatan SDM bagi pelaku wisata di Indonesia harus dimulai dari pekerja. Artinya, pekerja yang sebelumnya hanya bekerja dengan seadanya.
Penguasaan AI
“Hanya berharap gaji semata menuju perbaikan mindset ownership minset, service excelent, penguasaan AI, value creation dan global atau internasional standart,” tukasnya.
Menurutnya, sikap pekerja seperti itu jika tidak dirubah, SDM Indonesia akan tertinggal dengan negara lainnya.
Terkait hal itu, diakui Ngadiman, ada tiga skill yang wajib dimiliki jika tak ingin tertinggal.
“Pertama, penguasaan bahasa asing bukan hanya bahasa Inggris tapi China dan India, serta Rusia karena kita melihat jumlah turis banyak berasal dari negara tersebut,” tambahnya.
Kedua, lanjutnya, penguasan digital dan AI dengan baik. Ketiga, harus service excelent dan cross cultural skill dikuasai dengan baik.
“Ini resolusinya supaya kita bisa bersaing dengan dunia Internasional,” imbuhnya.
Oleh karena itu, Ngadiman berpesan kepada para pelaku industri kreatif agar tetap optimis di tahun 2026.
“Melihat kondisi dunia, saya tahu bahwa kita semua menghadapi resesi yang berkepanjangan. Terlebih jika pemerintah tidak bekerja dengan baik membantu kita dengan kebijakan yang tepat.
Untuk itu, ia meminta para pelaku usaha agar tetap harus semangat dan lebih kreatif, serta bekerja seefisien mungkin. “Hanya orang yang bekerja dengan baik dan efisien yang akan survive di tahun 2026 ” tutupnya. (*)