Jakarta, NARAYAMedia.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan dari 71,86 juta orang yang sudah mengikuti skrining kesehatan jiwa dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG), gejala depresi tertinggi ditemukan pada ibu hamil dan nifas yakni 7,1 persen.
“Kalau sering dengar postpartum depression, kami sudah berikan screening-nya dan juga tata laksananya, ternyata kami temukan cukup banyak,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi, seperti dikutip NARAYAMedia.com.
Hal itu dia sampaikan dalam temu media dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS), Hari Disleksia Sedunia, serta Bulan Kesadaran Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) di Jakarta, Jumat.
Endang menjelaskan Antenatal Care (ANC) untuk ibu hamil diberikan enam kali dan didalamnya termasuk skrining kesehatan jiwa. Pemeriksaan serupa juga diberikan setelah ibu melahirkan. Setelah ibu hamil dan nifas, lanjutnya, gejala depresi tertinggi ditemukan pada kelompok usia sekolah dan remaja yakni 2,3 persen.
Mengutip Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, kata Maria Endang, prevalensi depresi pada penduduk usia di atas 15 tahun sekitar 1,4 persen.
“Kalau kita ekstrapolasi mungkin sekitar 2,5 sampai 3 juta, tetapi baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Jadi ini baru 1 dari 10. Dengan kata lain, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan,” katanya.
Oleh karena itu pihaknya berupaya memperluas akses layanan kesehatan jiwa, salah satunya dengan menargetkan agar dalam dua tahun, seluruh puskesmas di Indonesia dapat memberikan layanan itu.
Selain itu memberikan layanan saluran krisis kesehatan jiwa melalui healing119.id. Maria Endang Sumiwi menyoroti bahwa isu kesehatan merupakan tantangan dalam pembangunan kesehatan nasional.
“Kondisi gangguan jiwa merupakan penyebab kedua hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia. Ini juga termasuk tiga besar beban kesehatan pada kelompok usia remaja hingga dewasa,” katanya.
Senada, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi mengatakan selain dengan terapi, menangani orang dengan masalah kesehatan jiwa juga perlu dengan aktivitas agar dapat merangsang otak. (*)