Ketum Asparnas Ngadiman Sudiaman: Pariwisata di RI Tertinggal Jauh dengan Thailand-Vietnam, Kami Jangan Ditinggal dan Bekerja Sendiri

JAKARTA, Naraya Media – Tahun baru 2026 disambut dengan optimisme tinggi oleh para pengusaha di bidang pariwisata Indonesia.

Didorong oleh tren global dan dukungan pemerintah, sektor ini mencatat pencapaian signifikan. Terutama dalam mengadopsi pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Serta memanfaatkan teknologi untuk pengalaman wisatawan yang lebih baik.

Salah satu pencapaian yang ingin diwujudkan oleh Ketua Umum Asosiasi Pariwisata Nasional (Asparnas) Ngadiman Sudiaman adalah ingin tetap bertahan dan bisa mencapai seperti yang telah dicapai di tahun 2025.

“Saya ingin menjadi pioner dalam membuat tempat destinasi baru yang viral dan membuka lapangan kerja sebanyak mungkin,” kata Ngadiman, membuka obrolan eksklusif bersama Naraya Media, Rabu (31/12).

Selain itu, bagaimana resolusi dan harapan Ngadiman lainnya saat membuka lembaran 2026. Berikut penuturannya:

Pencapaian terbesar yang ingin Anda wujudkan di tahun 2026?

Di tahun 2026, saya hanya berharap bisa tetap bertahan dan bisa mencapai seperti yang sudah di capai di 2025. Tetap fokus, kemudian bekerja secara efisien dan kreatif dalam menggali potensi yang ada.

Lalu, pencapaian atau milestone pribadi yang ingin ‘dicentang’ sebagai seorang pengusaha di 2026?

Menjadi pioner dalam membuat tempat destinasi baru yang viral. Serta membuka lapangan kerja sebanyak mungkin.

Sebagai pengusaha adaptif dan inovatif, lini bisnis baru apa yang menjadi fokus utama Anda untuk dikembangkan di 2026?

Membuat berbagai destinasi baru yang viral dan unik sehingga turis akan datang. Harus ada yang beda dan out of the box. Membuat turis melihat kita beda dan akan datang dengan sendirinya, selain promosi yang tepat

Harapan Anda terhadap bentuk kolaborasi antara Asparnas dengan pemerintah di 2026 guna menciptakan regulasi yang lebih ramah bagi pelaku usaha pariwisata?

Harapan saya, pemerintah lebih fokus terhadap pariwisata karena usaha pariwisata adalah yang paling sustainable.

Mengapa pariwisata?

Minyak, gas dan mineral, semua bisa habis pada waktunya. Pariwisata tidak. Sepanjang kita menjaga obyek wisata dengan baik. Pemerintah mesti memberikan perhatian khusus. Membuat berbagai kebijakan yang mendukung.

Termasuk masalah kenyamanan, keamanan, hingga biaya yang lebih murah. Terutama di tiket pesawat dan konektivitas yang gampang. Kami jangan ditinggal dan dibiarkan bekerja sendiri. Kita akan jauh ketinggalan dibandingkan Thailand dan Vietnam.

Bagaimana dengan negara lainnya?

Sekarang kita bukan menjadi negara pilihan pertama dalam menjalankan wisata. Kita masih kalah jauh dengan Vietnam. Jauh sekali. (*)

Share This Article

Related Posts