JAKARTA, Naraya Media – Tanah Air masih diguncang oleh narasi ‘pindah paspor’. Sorotan tajam masih tertuju pada Dwi Sasetyaningtyas, alumni beasiswa bergengsi LPDP dengan ucapan viral ‘cukup saya WNI, anak jangan’ yang menetap di luar negeri.
Di mana sang anak dilaporkan berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara asing (WNA)—meskipun sebelumnya Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum menyebut bahwa Dwi dianggap melanggar hak perlindungan terhadap anak.
Di tengah tren pindah paspor demi kemudahan visa atau tunjangan sosial, ribuan WNI di luar negeri justru memilih tetap memegang Paspor Hijau. Mengapa para WNI memilih tidak pindah sebagai WNA?
Nyatanya, tidak sedikit WNI yang menetap di luar negeri rela mencopot paspor hijaunya. Salah satunya Imelda Budiman, diaspora Indonesia yang telah menetap selama 26 tahun di Amerika Serikat, bersama suami dan anak-anaknya.
Secara tegas, Imelda mengakui bahwa ia sangat bangga membawa nama Indonesia. Dirinya menolak tawaran menjadi WNA meski sudah menetap puluhan tahun. Diketahui, Imelda merupakan pelaku seni. Mulai dari aktris hingga produser film di Indonesia.
Imelda mengaku, setiap tahun, satu atau dua kali, ia dan suami pasti menyempatkan diri kembali ke Indonesia. “Buat saya dan sekeluarga, Indonesia bukan sekadar nostalgia. Namun, masih merupakan rumah,” kata Imelda, dihubungi NARAYA Media secara khusus, Senin (2/3).

Menurutnya, ada kebanggaan yang sulit dijelaskan setiap kali ia memperkenalkan diri sebagai orang Indonesia. “Khususnya saat saya pernah berpartisipasi dalam ajang Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World diantara rekan-rekan dari bangsa lain. Ada kebanggaan atas bangsa yang besar, dengan populasi penduduk yang hampir sama dengan jumlah penduduk di sini (AS),” jelasnya.
Warisan
Kebanggaannya terpancar. Di mana, setiap ada acara di rumahnya di Washington DC bersama teman-teman American, ia selalu menyuguhkan makanan khas Indonesia. Mulai dari nasi kuning, rendang hingga bakmi bakso.
“Hasilnya selalu sama—mereka sangat appreciate dan suka. Terutama pada makanan rendang, sate ayam dan nasi kuning yang penuh rasa dan cerita,” tambah pemain di film Matadewa dan Pariban dari Tanah Jawa ini.
“Di rumah, sejak anak-anak masih kecil, kami juga lebih sering memasak makanan Indonesia. Bahkan anak saya yang kini tinggal di New York pun masih sering menanyakan resep dan memasak makanan Indonesia. Favorit mereka adalah rendang, sate dan nasi kuning,” tambahnya.
Tak hanya itu. Selama 15 tahun berturut-turut, keluarga Imelda — termasuk anak-anak — bersama Global Refuge International (GRI)) dan Riverside Indonesian Fellowship (RIF) selalu aktif dalam Bazaar Makanan Indonesia di Denver, Colorado, AS.
“Seluruh keuntungan bazaar kami salurkan untuk bantuan pengobatan dan dukungan sosial. Termasuk beberapa panti asuhan di Indonesia. Itu cara kecil kami menjaga ikatan, meski jarak memisahkan benua,” tukasnya.

Alasan berikutnya, yakni ikatan keluarga dan budaya Indonesia. Nilai sopan santun, kekeluargaan, dan empati yang ia pegang sampai hari ini adalah warisan Indonesia. Ia menilai bahwa itu sangat indah dan bagus untuk dipertahankan.
“Status sebagai WNI membuat saya merasa tetap terhubung—bukan hanya secara administratif. Tetapi, secara batin — dengan keluarga dan sahabat di Tanah Air,” tukasnya.
Beri Rasa Tenang
Selain itu, dalam kesehariannya, ia dan suami juga kerap mendengarkan lagu-lagu Indonesia. Termasuk sesekali menonton film Indonesia.
“Bahasa, rasa, dan budaya itu tetap hidup di dalam rumah kami. Walau kami berada ribuan kilometer jauhnya,” ujar wanita yang belum lama ini masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu.
Bagi Imelda, menjadi seorang WNI juga memberi rasa tenang karena tidak ada batasan—untuk berkarya, dan membangun sesuatu untuk negeri sendiri.
“Saya ingin selalu memiliki akses penuh ke tanah kelahiran saya—bukan sebagai tamu, tetapi sebagai bagian darinya. Kebetulan saya masih aktif di perfilman Indonesia melalui Shanaya Films. Film yang akan kami produksi next bersama Avarta Media berjudul ‘9 Aku, Cinta Yang Menyembuhkan’. Ttrue story tentang wanita dengan multi personalities yang sangat kuat untuk edukasi mental health,” katanya.
Tidak hanya sineas dan pelaku film, kebetulan di Indonesia, Imelda juga memiliki usaha properti. Imelda menyatakan ini sebagai caranya membangun dan memberi sedikit lapangan kerja di tanah kelahirannya.
“Karena pada akhirnya, kewarganegaraan bukan hanya soal paspor. Ini soal akar, soal identitas. Soal hati yang selalu tahu ke mana ia akan pulang,” tutupnya. (*)