JAKARTA, NARAYA Media – Memperingati Hari Film Nasional (HFN) yang jatuh setiap 30 Maret, industri perfilman Indonesia menjadi momen refleksi sekaligus rasa syukur.
Demikian penjelasan aktris dan produser film, sekaligus diaspora Imelda Budiman, yang telah 28 tahun menetap di Amerika Serikat (AS) bersama keluarga.
“HFN mengingatkan saya bahwa film bukan hanya tentang hiburan. Tetapi juga tentang budaya, identitas, dan suara bangsa,” kata jebolan Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World 2014 ini, Rabu (8/4).
Selain itu, lanjut Imelda, HFN juga menjadi kesempatan untuk menghargai kerja keras seluruh insan perfilman. “Baik yang di depan maupun di balik layar yang terus berjuang menjaga kualitas dan relevansi film Indonesia,” tambahnya.

Teknologi dan Distribusi
Namun, disisi lain, ada kondisi dan situasi berbeda pada industri perfilman Tanah Air untuk saat ini dan era sebelumnya. Perubahan yang paling terasa, menurut pemain film Matadewa dan Pariban dari Tanah Jawa, adalah dari sisi teknologi dan distribusi.
Dahulu, jalur utama film adalah bioskop. “Sementara, sekarang platform digital membuka akses yang jauh lebih luas. Bahkan ke pasar global. Selain itu, pendekatan storytelling juga semakin beragam dan berani,” jelas wanita yang belum lama ini masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu.
Selain itu, kata Imelda, generasi baru sineas turut membawa perspektif yang segar. Lebih inklusif dan lebih dekat dengan realitas sosial saat ini.
“Tantangannya ya, sekarang semakin kompetitif karena semakin banyak sineas di dalam Industri perfilman ini. Tapi, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih besar antara satu dengan yang lain,” papar pimpinan Shanaya Films yang akan segera memproduksi film true story tentang mental health, yang berkolaborasi bersama Avarta Media. (*)