JAKARTA, NARAYA Media – Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyoroti kebutuhan penguatan pendidikan vokasi sebagai jawaban atas kebutuhan nasional dalam reformulasi pengembangan madrasah.
Di tengah agenda besar pemerintah seperti industrialisasi, hilirisasi, hingga swasembada pangan, pendidikan Islam dituntut mampu mencetak lulusan. Tidak hanya religius, tetapi juga memiliki keterampilan praktis.
“Peluang kerja terbuka sangat besar, tetapi kurikulum kita belum sepenuhnya menjawab kebutuhan itu,” kata Wamenag Romo Syafi’i di Jakarta, Kamis (16/4).
Romo mengatakan Kemenag saat ini tengah melakukan reformulasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam usai terbentuk Direktorat Jenderal Pesantren.
Penguatan pendidikan kejuruan pada Ditjen Pendidikan Islam, termasuk madrasah, jadi salah satu fokus perhatian karena diharapkan dapat menjadi jawaban atas kebutuhan masa depan.
Pemisahan Ilmu Agama dan Umum
Diakuinya, reformasi pendidikan Islam, termasuk madrasah, tidak bisa lagi berhenti pada aspek normatif. Perubahan struktur kelembagaan harus diikuti dengan redefinisi peran pendidikan Islam secara lebih konkret.
“Karena itu, pemerintah mendorong pengembangan madrasah kejuruan, program vokasi di perguruan tinggi keagamaan Islam, serta kolaborasi lintas kementerian,” paparnya.
Wamenag juga mengingatkan seluruh ilmu pengetahuan, baik sains, teknologi, maupun ekonomi, pada dasarnya bagian dari ajaran Islam. Pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, diakuinya, justru menjadi penghambat kemajuan.
Sementara, pemikir Islam Haidar Bagir menekankan urgensi membangun visi pendidikan yang berangkat dari tujuan akhir, yakni profil lulusan yang ingin dihasilkan.
Pendidikan menurut Haidar harus dirancang secara sistematis melalui rantai logis yakni visi-misi, profil lulusan, hingga kurikulum. Ia mencontohkan visi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual dan saintifik, tetapi juga pembentukan karakter. (*)