JAKARTA, NARAYA Media – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menerima peneliti Rismon Sianipar di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (13/3). Keduanya seperti bersaudara setelah Rismon, penulis buku berjudul “Jokowi’s White Paper” itu menyampaikan permohonan maaf.
Berdasarkan pantauan, Rismon yang didampingi oleh pengacara tiba di Istana Wakil Presiden sekitar pukul 10.00 WIB. Pertemuan Gibran dan Rismon digelar secara tertutup dari awak media. Berselang 45 menit, Gibran dan Rismon keluar dari ruangan Kantor Wakil Presiden, dan menyapa awak media.
Gibran yang memakai setelan jas biru dongker dan kemeja putih, berbincang singkat dan menjabat tangan Rismon. “Makasih, makasih, makasih. Pokoknya kita ini saudaraan. Sudah, enggak ada apa-apa lagi,” ucap Gibran seraya memeluk tubuh Rismon, dikutip dari Antara.
Setelah itu, Gibran pun memberikan sebuah parsel besar untuk Simon yang berasal dari Balige, Sumatera Utara itu. “Ini, kan mau pulang kampung,” kata Gibran kepada Simon. Mendengar itu, Simon pun tertawa sambil membawa parsel meskipun sedikit kewalahan dengan besarnya bingkisan itu.
Simon yang menjadi tersangka atas tuduhan ijazah palsu terhadap Presiden Ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) itu menyampaikan permohonan maaf dan memberi klarifikasi melalui kanal YouTube Balige Academy yang diunggah pada Rabu (11/3).
Dewasa Berdemokrasi
Melalui klarifikasi itu, Rismon menemukan sejumlah temuan baru yang dipertanggungjawabkannya secara ilmiah dan akademik. Salah satunya soal keaslian ijazah Jokowi.
Menurutnya, objek kajian, seperti emboss dan watermarks dalam ijazah menunjukkan konsistensi sehingga mendukung bukti keaslian ijazah tersebut. Pada kesempatan itu, ia menyampaikan permintaan maafnya kepada Jokowi dan publik perihal temuan terbarunya mengenai ijazah Jokowi. Permintaan maaf itu sebagai bentuk tanggung jawab setelah meneliti ijazah Jokowi ada perubahan.
“Ya, tentu, saya pun minta maaf kepada publik. Apalagi kepada pihak terkait seperti Bapak Joko Widodo, itulah pertanggungjawaban seorang peneliti yang harus independen, yang siap dicerca, dihina, dengan narasi-narasi sesuka mereka,” katanya.
Atas permohonan maaf itu, Wapres Gibran dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Kamis (12/3) malam, mengatakan Ramadan merupakan bulan yang baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan. “Bulan Ramadan adalah bulan yang sangat baik untuk saling memaafkan dan kembali merajut tali persaudaraan,” kata Gibran.
Gibran juga menghargai pernyataan dan sikap Rismon yang telah menyampaikan klarifikasi serta kesediaannya meninjau kembali pernyataan yang sebelumnya disampaikan kepada publik. Langkah tersebut dinilai telah menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi. (*)