Jakarta, NARAYA Media – Tanah Air masih diguncang oleh narasi ‘pindah paspor’. Sorotan tajam masih tertuju pada Dwi Sasetyaningtyas, alumni beasiswa bergengsi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dengan ucapan viral ‘cukup saya WNI, anak jangan’ yang menetap di luar negeri.
Di mana sang anak dilaporkan berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara ssing (WNA)—meskipun sebelumnya Kementerian Hukum membantah bila sang anaknya masih berstatus WNI atau warga negara Indonesia.
Bagi netizen Indonesia, ini bukan sekadar urusan keluarga. Melainkan soal etika. Benarkah uang rakyat yang digunakan untuk menyekolahkan orang-orang pintar justru berakhir memperkuat sumber daya manusia negara lain?
Kontroversi ini meledak karena LPDP bukan sekadar bantuan finansial. Ia merupakan kontrak sosial untuk membangun Indonesia. Saat seorang alumni menetap secara permanen di luar negeri dan membiarkan keturunannya melepas status WNI, muncul aneka gugatan moral.
Mulai dari Brain Drain terstruktur. Artinya, negara membiayai otak-otak terbaik. Namun, ‘panen’ hasilnya justru dinikmati negara maju. Terakhir, paradoks hak dan kewajiban: secara hukum, anak memiliki hak memilih. Namun secara etis, ada beban pajak rakyat Indonesia di balik gelar akademis orang tuanya.
Identitas Diri
Namun, di tengah tren pindah paspor demi kemudahan visa atau tunjangan sosial, ribuan WNI di luar negeri justru memilih tetap memegang paspor hijau.
Mengapa mereka tidak pindah saja?
Dalam kesempatan serupa, NARAYA Media meminta keterangan khusus kepada Imelda Budiman, diaspora Indonesia yang telah menetap selama 26 tahun di Amerika Serikat.
Kenapa wanita yang belum lama ini masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu ini, masih setia dengan paspor Indonesia?
“Saya sudah 26 tahun tinggal di Amerika Serikat (AS). Pertanyaan itu memang sering sekali datang ‘Kok, betah di sini tapi nggak pindah warga negara?’. Jawabannya sebenarnya sederhana. Karena Indonesia bukan sekadar negara asal, tapi memang merupakan identitas saya,” kata Imelda, kepada NARAYA Media, Minggu (1/3).
Ada sejumlah alasan kenapa Imelda tetap memilih menjadi WNI. Pertama, panggilan hati. “Selama puluhan tahun saya membangun hidup di AS, memang sudah terbiasa dengan sistem, budaya, dan ritmenya. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah: rasa pulang itu selalu mengarah ke Indonesia,” jelas wanita yang juga runner-up ajang Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World ini. (*)