Jakarta, NARAYAMedia.com – Niat hati ingin menyembuhkan cucu yang sedang demam, sebuah tindakan berlandaskan kepercayaan lama justru berujung duka mendalam.
Kasus tragis menimpa Alena, bayi mungil di Surabaya, Jawa Timur, yang meninggal dunia di ruang perawatan intensif (NICU) RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, pada usia baru 28 hari.
Alena dilaporkan mengalami infeksi pencernaan berat . Ia sempat kejang setelah diduga dicekoki telur ayam mentah oleh neneknya, sebuah praktik tradisional yang dipercaya sebagian generasi tua sebagai penurun panas alami.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan peringatan keras. Pemberian telur mentah pada bayi di bawah usia enam bulan sangat berbahaya. Sebab, risiko tinggi paparan bakteri Salmonella yang memicu infeksi pencernaan berat.
Terlebih sistem imun bayi baru lahir belum terbentuk sempurna. Tragedi ini memantik keprihatinan luas di tengah masyarakat. Pendapat publik yang berhasil didapat menggambarkan jembatan pemisah yang nyata antara mitos masa lalu dan realitas medis modern masa kini.
Minim Edukasi
Seorang petugas kebersihan di perkantoran Jakarta menilai kebiasaan lama tersebut sudah tidak lagi relevan. Bahkan seharusnya ditinggalkan.
”Itu tidak cocok untuk perkembangan sekarang. ya. Itu mungkin zaman baheula, zaman dulu. Kalau aman kan, sekarang bawa aja ke dokter ke klinik. Kalau enggak punya duit pakai BPJS juga bisa,” kata petugas yang enggan disebut namanya di Jakarta, Rabu (14/10/2026) kepada NARAYAMedia.com.
Nada keprihatinan juga datang dari seorang wanita pedagang kantin. Baginya, tindakan memberikan bahan makanan mentah kepada bayi baru lahir adalah bentuk ketidaktahuan yang fatal.
”Kalau kayak gitu berarti neneknya kurang baik. Berarti dia meracuni cucunya. Anak umur segitu belum ada masuk vitamin, apalagi yang dikasih telur mentah,” ungkapnya dengan nada miris.
Sementara itu, seorang pengemudi ojek daring melihat peristiwa ini sebagai wujud minimnya edukasi kesehatan dasar. “Neneknya kurang paham. Dia mengira telur itu bisa menyembuhkan atau menurunkan demam, ternyata berakibat fatal atas kematian itu,” tuturnya.
Kematian Alena menjadi tamparan keras akan bahayanya atas mitos “zaman dulu” tanpa memverifikasi kebenaran medisnya.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi setiap keluarga agar lebih terbuka pada pengetahuan kesehatan modern dan berani menegur praktik pengasuhan keliru demi keselamatan buah hati. (Ayu/Intership)