Mengapa Orang yang Percaya Intuisi Jauh Lebih Bahagia?

Ilustrasi orang yang bahagia. (NARAYA Media/Dok. Freepik)

Jakarta, NARAYA Media – Sebuah penelitian yang dipublikasikan European Journal of Psychology menunjukkan, kemampuan mengenali, menerima, dan bertindak sesuai dengan kondisi batin atau intuisi diri terkait dengan tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi.

Melansir dari situs Psychology Today, Jumat (5/6) lalu, dalam penelitian itu, para peneliti memperkenalkan konsep “self-connection” atau keterhubungan dengan diri sendiri yang terdiri atas tiga komponen utama. Di antaranya, kesadaran terhadap kondisi internal, penerimaan tanpa menghakimi, dan keselarasan tindakan dengan apa yang dirasakan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki tingkat self-connection lebih tinggi cenderung memiliki aktualisasi diri, vitalitas, harga diri, kemampuan menghadapi masalah. Serta kesejahteraan subjektif yang lebih baik.

Peneliti menjelaskan, kesadaran terhadap perasaan saja tidak cukup. Seseorang juga perlu menerima kondisi tersebut dan menjadikannya dasar dalam mengambil keputusan sehari-hari.

Konsep ini terkait intuisi, yakni respons yang muncul secara spontan sebelum proses analisis rasional berlangsung. Menurut teori dual process yang dipopulerkan peraih Nobel Daniel Kahneman, manusia memiliki dua sistem berpikir, yakni sistem cepat yang bekerja secara otomatis dan sistem lambat yang bersifat analitis.

Meski pengambilan keputusan sering kali lebih mengandalkan pertimbangan rasional, penelitian menunjukkan bahwa sistem berpikir cepat turut memanfaatkan pengalaman, memori emosional, dan pengenalan pola yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

Latihan Mindfulness

Sejumlah penelitian neurosains juga menemukan bahwa intuisi tidak hanya berasal dari pikiran, tetapi turut melibatkan sinyal fisik dari tubuh. Sensasi seperti rasa nyaman, ringan, tegang, atau tidak nyaman dapat menjadi petunjuk yang membantu seseorang menilai situasi dan mengambil keputusan.

Kemampuan mengenali sinyal internal tubuh tersebut dikenal sebagai interosepsi. Dalam uji coba terkontrol yang diterbitkan di jurnal PLOS One pada 2022, latihan mindfulness selama tiga hari terbukti meningkatkan kemampuan peserta dalam mengenali kondisi tubuhnya sekaligus membantu menurunkan tingkat kecemasan.

Peneliti menyebut bahwa keputusan yang selaras dengan nilai dan kondisi diri sendiri cenderung memberikan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibandingkan keputusan yang semata-mata didorong tekanan sosial atau harapan orang lain.

Untuk melatih kemampuan tersebut, peneliti menyarankan sejumlah langkah sederhana, seperti meluangkan waktu sejenak untuk memperhatikan respons tubuh sebelum mengambil keputusan, mencatat pengalaman sehari-hari terkait intuisi. Serta menyediakan waktu tenang setiap pagi tanpa gangguan gawai.

Menurut peneliti, kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang lebih memahami dirinya sendiri dan membuat pilihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan serta tujuan hidupnya. (*)

Share This Article

Related Posts