Solok, Narayamedia – Ekonom sekaligus mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Miranda Swaray Goeltom mendorong pengembangan pariwisata di Indonesia berbasis budaya. Sebab, bisa meningkatkan penghasilan. “Indonesia kaya keragaman budaya dan adat istiadat. Kalau dikembangkan dengan baik, akan meningkatkan penghasilan masyarakat,” kata Miranda, dalam keterangan seperti dikutip dari Antara, Senin (18/8/2025).
Menurutnya, saat ini, Indonesia masih kalah dari Thailand. Sebab, mereka lebih kecil penduduknya yang hanya 60 juta. Termasuk etnik grupnya juga lebih sedikit. “Kalau pariwisata berbasis budaya berhasil dikembangkan maka Indonesia akan jauh lebih baik penghasilannya dari negara lain,” katanya.
Dia menyebut, jika daerah lain bisa mencontoh pengembangan wisata budaya seperti di Minangkabau maka akan lebih cepat berkembang. Di Minangkabau katanya, masyarakatnya menyambut seperti industri rumahan atau UMKM nya.
Kearifan Lokal
Contoh, katanya, songket yang bagus-bagus, termasuk makanannya yang enak tapi dijual tetap dengan harga murah. Tidak dinaikkan walau yang beli wisatawan luar daerah.
Selain itu ia mendorong agar segala program dan investasi diarahkan pada pemberdayaan masyarakat adat. Sehingga pelestarian budaya menghasilkan manfaat ekonomi nyata bagi warga setempat.
“Kita coba mengidentifikasi tiga prioritas utama yakni, pelatihan pemandu lokal, pembinaan perajin agar produk siap pasar dan penyusunan tata kelola kunjungan yang menghormati nilai-nilai adat,” tambahnya.
Tanpa intervensi yang melibatkan komunitas lokal secara langsung, sambungnya, pariwisata berisiko jadi komoditas yang menguntungkan pihak luar. Serta mereduksi fungsi sosial-budaya rumah gadang. “Kearifan lokal harus menjadi modal pemberdayaan ekonomi. Bukan sekadar objek tontonan,” paparnya. (*)