JAKARTA, Narayamedia – Pembukaan ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA) 2025 di Grand Margherita Hotel, Kuching, Sarawak, Malaysia pada 12-15 November 2025 lalu, berlangsung meriah. Festival film bergengsi bertema ‘AIFFA 2025 Under the Stars’ ini menghimpun karya-karya terbaik dari seluruh Asia Tenggara.
Sekaligus sebagai ajang pertemuan para sineas, produser, aktor, dan pelaku industri film dari seluruh negara ASEAN. Termasuk kehadiran Timor Leste yang kali pertama hadir–sekaligus sebagai anggota baru ASEAN.
AIFFA kembali membuka pintu peluang kolaborasi internasional secara lebih luas. Dalam acara ini, AIFFA mengumumkan daftar film dan talenta yang masuk nominasi di 2025. Diakui Film Festival Director, Livan Tajang, event tahun ini memecahkan rekor jumlah submisi.
“Kami menerima 200 submisi lebih, jumlah tertinggi sejak festival ini dimulai. Film-film terpilih menunjukkan dedikasi, passion, dan kepekaan bagi kualitas dan cerita yang kuat. ASEAN adalah tungku dari beragam budaya, narasi, dan kreativitas,” kata Livan di Kuching, Kamis (13/11) malam.

Salah satu nominator adalah Imelda Budiman, diaspora asal Indonesia yang sudah tinggal di Amerika Serikat selama lebih dari 25 tahun. Diketahui, Imelda masuk daftar nominasi AIFFA 2025 untuk kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home).
Menariknya, ia bersanding dengan deretan bintang. Mulai dari Hong Dao – Chi Dau (Vietnam), Sweet Qismina – Babah (Malaysia), Katrina Halili – AbeNida (Filipina), dan Zulfa Maharani – Crocodile Tears (Indonesia).
Ternyata, ini bukan film pertama Imelda yang tembus festival film internasional. Sebelumnya, film Buen pernah terpilih secara resmi dalam nominasi di festival Bali International Film Festival (Balinale) 2025, Kota Kinabalu International Film Festival (KKIFF) 2025, hingga Nepal Cultural International Film Festival (NCIFF) 2025.
Bintang dan Produser Eksekutif
Diketahui, film Buen (Way Back Home) merupakan drama tentang konflik abang adik tiri, Mesala dan Judah— akibat luka lama.
“Film ini mengangkat kisah perjalanan abang adik tiri yang mereka mencari ayahnya dengan latar budaya Dayak di Kalimantan Timur. Kita shooting di area persis titik Penajam, sebelum ada ide pembentukan Ibu Kota Nusantara (IKN). Benar-benar challenging, dengan kondisi pedalaman tanpa ada internet dan terbatasnya air bersih disana, bahkan sempat shooting di tengah hutan di tengah malam. Namun itu merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya,” kata Imelda yang sebelumnya pernah membintangi film Matadewa dan Pariban: Idola dari Tanah Jawa, dalam keterangan resmi diterima Narayamedia, Rabu (19/11).
Film ini menghadirkan refleksi universal tentang rekonsiliasi, memaafkan, antara orang tua, anak, saudara atas dan kuatnya ikatan keluarga. “Tema yang kami yakini akan sangat menggema di hati penonton di seluruh dunia. Ini juga kerjasama kami, Shanaya Films dan PIM Pictures,” tambah Mrs Indonesia World 2014 ini.

Dalam film garapannya tersebut, selain sebagai Executive Producer, Imelda juga berakting sebagai Ratih, kekasih Mesala, tokoh di film itu. Imelda mengaku sangat bersyukur bisa berada di posisi sekarang ini.
“Saya sangat terharu dipercaya lolos dinominasikan sebagai Best Supporting Actress (Aktris Pendukung Terbaik) untuk film Buen (Way Back Home) di kelas festival film yang cukup besar di Asia ini,” jelasnya. Terlebih, sang suami juga turut hadir mendampingi pada malam puncak festival AIFFA 2025 lalu.
“Hal ini sangat menyemangati untuk bisa lebih memberikan yang terbaik dalam dunia perfilman Indonesia. Juga sebuah kehormatan besar bisa menjadi bagian dari festival yang besar dikelilingi para seniman luar biasa dan hangatnya keramahan Malaysia,” ungkapnya.
Sebagai informasi, AIFFA adalah ajang bergengsi yang merayakan sinema Asia Tenggara. Mempertemukan para pembuat film, aktor, dan pencerita dari seluruh kawasan.
Digelar di kota Kuching yang indah, AIFFA memberikan penghargaan bagi talenta terbaik. Menampilkan kekayaan budaya dan mempererat kolaborasi dalam komunitas. (*)