JAKARTA, Naraya Media – Dunia properti Asia mendadak gempar. OUE REIT, perusahaan yang dikendalikan oleh konglomerat asal Indonesia, Mochtar Riady, dilaporkan tengah menjajaki penjualan salah satu gedung pencakar langit paling ikonik di Singapura: One Raffles Place.
Tak main-main, nilai valuasi aset di jantung distrik finansial (CBD) ini ditaksir mencapai S$2,4 miliar atau sekitar Rp28-32 triliun. Penjualan ini memicu spekulasi panas.
Mengapa dilepas sekarang? Berdasarkan laporan keuangan terbaru, OUE Limited memproyeksikan kerugian bersih untuk tahun fiskal 2025.
Kerugian ini disebut-sebut akibat hantaman dari pasar properti di China melalui kepemilikan saham mereka di Gemdale Properties yang menderita kerugian hingga S$240 juta.
Apakah penjualan One Raffles Place adalah langkah “panik” untuk menutup lubang kerugian di China, atau justru taktik “asset-right” yang cerdik untuk mengamankan kas di tengah ketidakpastian ekonomi global?
Mengapa Kontroversial?
- Ikon yang Terbuang: One Raffles Place bukan sekadar gedung biasa. Ini adalah salah satu gedung tertinggi di Singapura yang menjadi simbol dominasi bisnis keluarga Riady di mancanegara. Melepasnya dianggap sebagai tanda mundurnya kekuatan Lippo Group di sektor perkantoran elit Negeri Singa.
- Momentum yang Aneh: Di satu sisi, sektor properti komersial Singapura sedang naik daun dengan volume investasi mencapai titik tertinggi dalam 8 tahun terakhir. Jika pasar sedang bagus, kenapa buru-buru dijual? Apakah Riady mencium aroma “bubble” yang akan segera meledak?
- Nasib Pemegang Saham: Manajemen OUE REIT menegaskan bahwa ini masih tahap penjajakan minat pasar (market testing). Namun, para investor ritel mulai was-was apakah hasil penjualan ini akan dibagikan sebagai dividen atau justru habis untuk membayar utang dan menambal kerugian di lini bisnis lain.
Siapa Untung?
Jika transaksi ini gol, maka ini akan menjadi salah satu penjualan properti tunggal terbesar dalam sejarah Singapura. Bagi keluarga Riady, dana segar Rp32 triliun bisa menjadi “peluru” baru untuk berekspansi ke sektor kesehatan atau digital.
Namun, bagi pengamat, ini adalah peringatan keras bahwa bahkan raksasa properti sekelas Lippo pun harus “buang muatan” demi bertahan hidup dari krisis properti di China. (*)