BBM Non-Subsidi Naik, Rupiah Malah Perkasa? Ini Rahasianya!

Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS dan rupiah di bank di Jakarta. (NARAYA Media/Dok. Antara)

JAKARTA, NARAYA Media – Nilai tukar rupiah pada Senin (20/4) pagi, menguat 34 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.155 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.189 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi langkah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi dianggap dapat mengurangi beban APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara),” katanya di Jakarta, Senin (20/4), dikutip dari Antara.

PT Pertamina (Persero) baru saja menaikkan harga sejumlah produk BBM nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex mulai Sabtu (18/4) lalu.

Harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta per 18 April ini naik Rp19.400 per liter dari harga per 1 April 2026 sebesar Rp13.100 per liter. Untuk harga Dextlite, ditetapkan Rp23.600 per liter, naik dari 1 April 2026 sebesar Rp14.200 per liter. Adapun untuk Pertamina Dex, harga ditetapkan menjadi Rp23.900 per liter dari sebelumnya Rp14.500 per liter.

Harga sejumlah BBM ini juga tercatat mengalami penyesuaian di sejumlah provinsi lainnya. Dalam laman resminya, Pertamina menyebut penyesuaian harga BBM umum itu dilakukan sesuai formula harga dasar dalam perhitungan harga jual eceran jenis bahan bakar minyak umum jenis bensin dan minyak solar yang disalurkan melalui stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Formula itu selaras dengan Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022 sebagai Perubahan atas Kepmen No. 62 K/12/MEM/2020. Di sisi lain, ketidakpastian seputar status Selat Hormuz memberikan sentimen negatif terhadap rupiah.

Investor Wait and See 

Sebagaimana dilaporkan Anadolu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali ke “kondisi sebelumnya” di bawah kendali “angkatan bersenjata”. Hal ini merujuk pada blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang masih terus berlangsung.

IRGC menegaskan hingga AS “memulihkan sepenuhnya kebebasan pergerakan kapal yang menuju dan keluar dari Iran”, situasi di Selat Hormuz akan tetap berada dalam pengawasan ketat dan tidak berubah.

“Investor juga masih cenderung wait and see hasil perundingan AS-Iran pada hari Senin dan RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) pada hari Rabu (22/2). Namun, untuk perundingan Iran-AS belum bisa dipastikan terjadi, masih simpang siur,” kata Lukman.

Tim AS dan Iran kemungkinan akan menggelar putaran kedua perundingan yang melibatkan tim teknis masing-masing di ibu kota Pakistan dalam waktu dekat, paling cepat pada hari ini.

Tim teknis dari kedua pihak diperkirakan bertemu di Islamabad untuk putaran berikutnya guna merampungkan kesepakatan atas konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan antara AS dan Iran yang berdampak pada pasokan energi global dan kehidupan sehari-hari di kawasan Timur Tengah.

Terkait RDG BI, lanjutnya, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga dan memberikan retorika yang sama seperti sebelumnya. “Namun, mencermati pelemahan rupiah belakangan ini, saya melihat ada potensi suku bunga dinaikkan,” jelasnya. (*)

Share This Article

Related Posts