JAKARTA, NARAYA Media – Ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru yang menunjukkan kinerja positif.
Pada Semester I 2025, sektor ini tercatat tumbuh 9,42 persen (year on year). Dari data tersebut, industri film Tanah Air percaya diri dan mampu mendorong ekosistem yang inklusif dan berdaya saing.
Menurut aktris-produser film Imelda Budiman, sekaligus diaspora yang menetap 26 tahun di AS bersama keluarga, kuncinya adalah kolaborasi dan keberanian membuka ruang.
“Industri harus memberi kesempatan yang adil bagi talenta dari berbagai latar belakang. Baik dari sisi gender, daerah, maupun perspektif cerita,” kata Mrs Asia USA 2013 dan Mrs Indonesia World ini, Rabu (8/4).

Ekosistem Sehat-Inklusif
Selain itu, lanjut Imelda, penting juga untuk terus meningkatkan kualitas film. Khususnya dalam kedalaman cerita melalui pendidikan, pelatihan, dan standar profesional yang kuat.
“Dengan ekosistem yang sehat dan inklusif, industri kita tidak hanya kuat di dalam negeri. Tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional,” tegas
pemain film Matadewa dan Pariban dari Tanah Jawa ini.
Imelda menambahkan, industri film memiliki multiplier effect dan dampak yang luas.
“Sebuah film bisa menjadi jendela bagi dunia untuk melihat keindahan budaya, lokasi wisata. Bahkan gaya hidup suatu daerah,” tambahnya.
Menurut wanita yang masuk nominasi AIFFA 2025 di kategori Best Suporting Actress di film Buen (Way Back Home) pada 12-15 November 2025 lalu, banyak destinasi menjadi dikenal karena film.
Begitu pula dengan kuliner dan fashion yang ikut terangkat. Contoh yang sangat kuat, kata Imelda adalah Korea Selatan.
“Jadi, film bukan hanya karya seni. Tetapi juga penggerak ekonomi kreatif yang saling terhubung. Sekaligus bisa memberikan manfaat nyata bagi banyak sektor,” tutupnya. (*)