JAKARTA, NARAYA Media – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menyebutkan, industri event organizer (EO) sebagai ‘sarang korupsi’.
Pernyataan tersebut menuai reaksi dari sejumlah kalangan. Pasalnya, kritik itu dinilai tidak sejalan dengan semangat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Terutama yang selama ini mendorong ekonomi kreatif, UMKM, dan industri berbasis kreativitas sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Anggota Komisi VI DPR RI F-Gerindra sekaligus Ketua Umum Gekrafs, Kawendra Lukistian, ikut menanggapi statement Didu itu.
Melalui unggahan di media sosialnya, Kawendra menilai pernyataan Didu sebagai logika yang sesat dan berbahaya.
“Karena dapat merusak citra industri kreatif (ekraf). Khususnya sektor event organizer yang selama ini menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional,” kata Kawendra, dalam keterangan resmi diterima NARAYA Media, Sabtu (4/4).
Menurut Kawendra, arah kebijakan Prabowo justru menempatkan sektor ekraf sebagai salah satu tulang punggung penciptaan lapangan kerja baru.
Karena itu, ia menilai narasi yang menyudutkan industri EO secara menyeluruh, bisa berdampak buruk terhadap jutaan pekerja kreatif di lapangan.
“Event Organizer (EO) adalah industri yang jelas-jelas menggerakkan ekonomi bangsa. Sesat logika yang disampaikan yang bersangkutan tentu sangat berbahaya,” kata Kawendra dalam unggahan di Instagram pribadinya, Jumat (3/4).
Kawendra menegaskan, industri EO bukan beban anggaran negara. Melainkan salah satu sektor yang memberi dampak besar terhadap perekonomian.
270 Ribu Pekerja Event
Ia menyebut kontribusi industri EO terhadap produk domestik bruto mencapai Rp128 triliun.
“Sebuah logika sesat ketika Bang Said Didu dalam talkshow di salah satu TV mengatakan bahwa industri event organizer (EO) adalah sarang korupsi. Industri EO itu bukan beban anggaran, melainkan penggerak ekonomi kreatif,” ujar Kawendra.
Ia juga memaparkan, industri EO melibatkan lebih dari 14.800 UMKM. Lalu, 270 ribu lebih pekerja event profesional, hingga jutaan freelancer yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.
Kawendra mengatakan pesan Prabowo, yakni negara harus hadir melindungi sektor-sektor produktif yang membuka lapangan pekerjaan dan memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, industri EO termasuk salah satu sektor yang harus dijaga. Bukan justru dilemahkan dengan stigma negatif.
“Kontribusi terhadap PDB sangat jelas Rp128 triliun. UMKM yang terlibat lebih dari 14.800 dan 270.000 lebih pekerja event profesional serta jutaan freelancer di industri ini. Artinya, industri EO adalah penggerak ekonomi bangsa yang riil,” jelasnya.
Kawendra bahkan mengaku mempertimbangkan langkah hukum untuk menjaga marwah para pelaku ekraf di sektor EO.
“Demi menjaga marwah pejuang ekraf di sektor EO, saya mempertimbangkan meminta Bidang Hukum DPP Gekrafs melaporkan ini secara perdata,” tukasnya.
Pernyataan Kawendra mendapat banyak dukungan dari netizen di kolom komentar. Sejumlah warganet menilai industri EO justru membuka banyak lapangan pekerjaan dan menghidupi jutaan orang.
Tak sedikit netizen yang menilai pernyataan Didu terlalu generalisasi dan berpotensi merugikan pekerja kreatif.
Mereka juga berharap industri EO tidak disudutkan hanya karena adanya dugaan penyimpangan di sejumlah kegiatan tertentu. (*)