NEW YORK, Naraya Media – Platform TikTok, menghadapi gelombang uninstall (penghapusan aplikasi) oleh penggunanya di Amerika Serikat (AS). Aksi ini terjadi menyusul pengumuman resmi mengenai restrukturisasi kepemilikan operasional TikTok di AS, di mana konsorsium investor Amerika kini memegang kendali mayoritas, serta adanya pembaruan kebijakan privasi.
Langkah ini diambil setelah bertahun-tahun ketegangan geopolitik dan tekanan pemerintah AS terhadap ByteDance, perusahaan induk asal Tiongkok.
Berdasarkan kesepakatan terbaru yang difinalisasi pada 23 Januari 2026, operasional TikTok di Amerika Serikat kini dikelola oleh entitas baru, TikTok USDS Joint Venture LLC, di mana investor AS—termasuk Oracle dan Silver Lake Management—memegang kendali mayoritas.
Meskipun ByteDance tetap mempertahankan 19,9 persen saham, perubahan struktur ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pengguna terkait bagaimana data mereka akan ditangani di bawah kepemilikan baru dan algoritma yang telah diperbarui.
Peralihan ke Aplikasi Pesaing
Pengguna ramai-ramai mengunggah tangkapan layar saat mereka menghapus aplikasi TikTok, seringkali disertai dengan tagar yang mengekspresikan ketidakpercayaan pada privasi data di bawah manajemen baru. Selain itu, laporan muncul bahwa beberapa konten mulai disensor atau disembunyikan, menambah frustrasi di kalangan kreator konten.
“TikTok telah dikompromikan,” tulis seorang pengguna di media sosial, yang mencerminkan sentimen banyak orang yang memilih keluar setelah perubahan kepemilikan tersebut.
Fenomena uninstall massal ini telah menyebabkan lonjakan unduhan aplikasi pesaing yang berfokus pada privasi. Pengguna mulai mencari alternatif yang dianggap lebih aman dan tidak terikat dengan drama kepemilikan yang rumit seperti yang dialami TikTok.
Dengan berlakunya kebijakan baru dan restrukturisasi ini, masa depan TikTok sebagai aplikasi “paling adiktif” di AS kini memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.